Siswa Luar Kota Tak Kebagian Kursi

MALANG KOTA – Bagi siswa dari Kabupaten Malang yang hendak bersekolah di Kota Malang, terpaksa gigit jari. Karena, di petunjuk teknis (juknis) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019, siswa dari kabupaten tidak bisa lagi masuk ke Kota Malang.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Kota Malang dan Kota Batu Dra Ema Sumiarti menyatakan sesuai juknis, Kemendikbud hanya ingin setiap siswa bisa bersekolah di domisilinya. ”Kalau di jalur prestasi, yang mendaftar ya harus siswa yang berdomisili di wilayah itu. Nggak seperti PPDB SMP, yang siswa luar Kota Malang masuk lewat prestasi,” ujar Ema.

Pembatasan siswa luar Kota Malang ini dibuktikan dengan dilarangnya para calon siswa mendaftar ke jalur prestasi. Sementara yang ingin mendaftar melalui jalur online, hanya dibatasi di dua SMA saja. Yakni SMAN 6 dan SMAN 10 yang lokasinya dekat dengan wilayah Kabupaten Malang.

Dari pantauan PPDB offline, Ema membenarkan banyak wali murid perbatasan Kota Malang nekat mendaftar lewat jalur prestasi, namun mereka harus pulang dengan kenyataan pahit. ”Alasannya karena dekat dengan rumah mereka, makanya mencoba daftar. Tetapi tidak bisa. Itu sudah keputusan,” kata dia.

Dia menyatakan, siswa luar Kota Malang bisa masuk lewat jalur prestasi hanya di SMAN 6 dan SMAN 10 saja. Hal itu berbeda dengan tahun lalu yang membuka kesempatan siswa dari Kabupaten Malang mendaftar di 5 SMAN. ”Sebenarnya boleh, asal ada komitmen bersama dua kepsek antarwilayah. Namun, itu harus ada dasar jika benar, di wilayah tersebut tidak ada SMA sama sekali,” kata dia.



Sementara, dari pantauan koran ini sejak PPDB offline prestasi dibuka 11 Juni lalu, di SMAN 7 sendiri memang banyak wali murid yang mendaftar. Pernyataan Ema pun diamini Lutfianto, ketua panitia PPDB SMAN 6.

Menurut dia, banyak orang tua yang tinggal di Kabupaten Malang berusaha mendaftarkan anaknya ikut offline jalur prestasi. ”Ini karena rumah mereka lebih dekat ke kota daripada kabupaten,” jelasnya. Namun karena aturannya tidak boleh, pihaknya terpaksa menolaknya. Sehingga, mereka  harus mendaftar ke sekolah negeri di Kabupaten Malang.

Lutfi menambahkan, sekolah sebetulnya juga telah mendapatkan daftar nama by name siswa yang beprestasi tingkat Jatim asli Kota Malang. ”Ada 15 orang siswa. Tapi mereka menyebar ke sekolah mana, saya tidak tahu karena bebas memilih sekolah,” paparnya. Untuk prestasi non-akademik tahun ini, penyelenggaraannya haruslah berjenjang. Dan semua prestasi juga akan dihitung skornya sesuai tingkatan lomba.

”Untuk prestasi non-akademik juga ada skornya,” jelas dia. Sesuai di juknis PPDB, nilai skor tergantung jenjangnya. Untuk tingkat internasional sendiri skor tertinggi adalah 9. Sedang untuk juara 2 dan 3 jenjang internasional, skornya 8 dan 7. Sedang juara nasional diambil juara 1, 2, dan 3.

Masing-masing skornya 7, 6, dan 5. Sedang juara provinsi diambil juara 1, 2, dan 3 dengan skor 5, 4, dan 3. Sedangkan juara 1 tingkat kota dan kabupaten, skornya 3. Bagi bidang keagamaan seperti penghafal Alquran juga ada skornya. Untuk penghafal 10 juz mendapat skor 5. Bila hafal 20 juz dapat skor 7 dan hafal 30 skor dapat 9. ”Kelebihan di jalur prestasi yaitu bebas memilih sekolah,” ujarnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani