Siswa Diminta Cari NaCl dalam Bola Salju, KPAI: Itu buat Anak Eropa

Retno Listyarti

JawaPos.com – Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menduga soal HOTS diambil dari Soal Programme for International Students Assessment (PISA). Sebab, ada soal-soal yang konteksnya tidak sesuai dengan Indonesia.

Dirinya berulangkali menegaskan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada Ujian Nasional (UN) tidaklah harus sulit.

Bahkan menurutnya, Kemendikbud cenderung menghindari soal L1 (hafalan) dan L2 (pemahaman) yang banyak dilatih guru dan memberi soal L3 (penalaran atau analisa).

“Di Indonesia, pembelajaran tidak HOTS, hanya L1 mentok-mentok di L2. Jadi, anak tidak bisa jawab soal UN bukan bodoh atau tidak kerja keras. Tapi alat ukurnya salah,” tegasnya di Gedung LBH Jakarta, Jumat (18/5).



Dirinya menjelaskan pihaknya mendukung adanya soal HOTS, tetapi KPAI tetap mendesak soal HOTS yang implementatif dan kontekstual, dapat lebih mengarah ke kehidupan sehari-hari.

“Soal HOTS harus kontekstual, yaitu sehari-hari seperti belajar teori di sekolah jadi anak dikasih soal HOTS bisa kerjakan. Kalau soal kemarin, anak disuruh mencari NaCl dalam 1 ton bola salju padahal Indonesia negeri tropis, kalau itu soal untuk anak Eropa, terangnya.

“Jadi kami duga ini soal di PISA, dinilai bagus lalu diambil jadi soal UN” tegasnya.

Dirinya pu merespon kabar bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menaikkan level soal HOTS.

Sehingga, UN tidak akan mungkin disingkirkan sebab itu dapat menjadi hasil uji proses pembelajaran.

“Nggak ada UN, nggak akan kiamat. Biarlah kelulusan ditentukan oleh pendidik yang lebih tau kemampuan siswa. Maka dari itu, pendidik yakni guru dan sekolah perlu dipersiapkan,” tutur Retno yang juga mantan Kepala Sekolah itu.

KPAI menyayangkan tanggapan Kemendikbud yang ingin menjadikan hasil UN sebagai syarat kelulusan.

KPAI melihat, Kemendikbud melakukan hal tersebut sebagai tanggapan dari nilai UN 2018 yang menurun akibat peserta didik yang tidak mau belajar serius.

“KPAI akan terus menerima pengaduan. Mereka (peserta UN) belajar, tapi pas ujian soal berbeda dengan yang dilatih. Itu pelanggaran anak. Bukan anak tidak belajar dengan kerja keras, tetapi soal yang diberikan memang keliru,” pungkasnya.

(rgm/JPC)