Sistem Zonasi untuk Dosen Asing

MALANG KOTA – Ini menjadi kabar baik bagi para dosen yang sempat khawatir dengan kebijakan diperbolehkannya dosen asing mengajar di Indonesia. Lantaran, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LP2DIKTI) Wilayah VII Jawa Timur bersama Kemenristekdikti akan memetakan dosen asing ini di beberapa program studi.

Sekretaris LP2DIKTI Wilayah VII Widyo Winarso menyatakan, model pemetaan ini berdasarkan keluhan dosen dalam negeri yang ada di Kota Malang. ”Selama ini, mereka (dosen dalam negeri) merasa terancam dengan adanya join teaching (mengajar bersama) ini,” kata Widyo.

Ancaman ini, karena dosen dalam negeri merasa mereka sanggup mengajar dan mentransfer ilmu pengetahuan mereka. Sehingga, mereka mayoritas beranggapan tidak perlu ada dosen asing. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya berkoordinasi dengan Kemenristekdikti dan siap membentuk pola baru.

”Mungkin mirip zonasi, jadi dosen asing ini tidak ditempatkan di wilayah keilmuan yang sudah ada profesor dalam negerinya,” ujarnya. Dengan kebijakan ini, kehadiran dosen asing tidak mungkin banyak. ”Target kami itu per kampus ada minimal dua dosen asing yang mengajar,” kata dia.

Untuk kampus di Kota Malang, mau swasta atau negeri, Widyo memperkirakan bisa mengadakan lebih dari 50 dosen asing. Namun, Widyo juga memberikan fakta, jika dosen asing yang sudah hampir direkrut beberapa kampus malah beralih fungsi menjadi pendamping seminar atau keynote speaker di seminar internasional saja. Penyebabnya, karena bidang keilmuan yang siap diisi sudah terlalu penuh dengan dosen lokal dan tidak ada koordinasi yang terperinci dari dalam kampus.



”Dari segi biaya pengadaan, Kemenristekdikti sudah siap membantu. Seharusnya bisa diserap sebanyak mungkin,” kata dia. Terutama kampus swasta, diharapkan Widyo juga bisa menambah dosen asing.

”Dari segi biaya bisa hemat, dari segi keilmuan, PTS juga terbantu dengan dosen asing. Kalau PTN sudah banyak,” kata dia. Untuk bidang keilmuan yang sudah banyak diisi dosen dalam negeri adalah bidang eksakta. ”Guru besar bidang eksakta sudah mencapai hampir 300-an, jadi sudah banyak bidang keilmuan eksakta yang diisi. Kalau bidang sosial, kemungkinan setengahnya,” kata Widyo lagi.

Widyo juga menyatakan, untuk bisa menarik dosen asing ke dalam kampus, akan dibuatkan peta program studi. ”Misalnya, di Kota Malang ini kan mulai banyak program studi yang baru, nanti bisa diisi dosen asing ini,” ujarnya. Itu pun, kata Widyo, akan segera dibuatkan perincian kualifikasi dosen asing yang bisa masuk ke program studi baru untuk  mengajar. 

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq