Sistem Satu Arah Mulai dari Tol Cikampek hingga Tol Pejagan-Pemalang

Sistem Satu Arah Mulai dari Tol Cikampek hingga Tol Pejagan-Pemalang

JawaPos.com – Penerapan sistem satu arah (one way) pada arus mudik oleh Korlantas Polri akan banyak membantu mengurai arus lalu lintas. Sebab, arus mudik lewat darat tahun ini diperkirakan meningkat 30 persen dari tahun sebelumnya.

Tanpa itu, kendaraan pemudik dari Jakarta ke Jawa Tengah akan menumpuk. Nanti sistem satu arah tersebut diberlakukan selama empat hari sebelum hari H Lebaran. Rekayasa lalu lintas itu dilakukan sejauh 193 kilometer (km), mulai tol Cikampek hingga tol Pejagan (Brebes).

Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Korlantas Polri Kombespol Benyamin menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas tersebut akan diberlakukan pada saat puncak arus mudik yang diperkirakan terjadi pada 1 Juni. Nah, sistem satu arah itu akan diberlakukan pada 30 Mei hingga 2 Juni. Sistem tersebut nanti memudahkan pemudik dari Jakarta yang akan pulang kampung ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. “Empat hari, karena diprediksi sejak 30 Mei arus mudik sudah terlihat,” ujarnya.

Langkah penerapan sistem satu arah tersebut akan mengurai kemacetan arus mudik. Sebab, volume kendaraan dari Jakarta diperkirakan membeludak. Satu arah akan berlaku mulai tol Cikampek Km 30 hingga tol Pejagan-Pemalang Km 262. Pelaksanaan satu arah itu akan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga malam pukul 21.00, sekitar 13 jam. Langkah tersebut akan memanjakan pemudik dari arah Jakarta. “Pemudik dari arah Jakarta akan bablas saja,” ucapnya.

Ruas tol menuju Cikampek dari arah Bekasi. Selama arus mudik diberlakukan sistem satu arah dari Cikampek hingga Brebes. (Salman Toyibi/JAWA POS)

Nanti banyak petugas lalu lintas yang berjaga. Utamanya di pintu-pintu keluar tol. Dengan begitu, para pemudik tidak kebingungan. Namun, sistem satu arah itu membutuhkan perhatian bagi pemudik dari arah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang akan menuju arah Jakarta. Pemudik ke Jakarta sejak di tol Pejagan-Pemalang akan diarahkan keluar menuju jalan pantura, melewati Cirebon, Subang, dan Purwakarta. Mereka baru bisa masuk di tol Cikampek. “Tapi, itu kalau melintasnya pagi pukul 08.00 hingga malam pukul 21.00,” terangnya.

Benyamin menambahkan, untuk menghindari sistem satu arah tersebut, pemudik dari Jakarta yang ke arah Jawa Timur dan Jawa Tengah perlu memperhitungkan waktu tibanya di tol Pejagan-Pemalang. Bila sudah dirancang tiba pukul 21.00 di tol Pejagan-Pemalang, tentu sudah tidak ada one way. “Kalau dari Semarang berangkat pukul 18.00, pukul 21.00 sampai tol Pejagan-Pemalang sudah tidak ada one way. Sudah dua arah lagi,” jelasnya.

Satu arah tersebut dipilih karena berbagai pertimbangan. Misalnya, masih ada tumpukan material bangunan proyek jalan di tol Cikampek. Tepatnya sebelum Km 30. Karena itu, satu arah tersebut dimulai di Km 30 agar bisa menarik kendaraan yang padat akibat hambatan material bangunan proyek. “Tujuannya agar lebih mudah terurai,” katanya.

Selain hambatan material bangunan proyek di tol Cikampek, masih ada hambatan lainnya di jalan tol tersebut, yakni rest area. Berdasar pengalaman arus mudik selama beberapa tahun belakangan, diprediksi di rest area Km 19, Km 33, Km 47, dan Km 57 akan terjadi kemacetan. “Sebabnya kadang sepele. Pemudik tidak mengisi penuh BBM-nya. Pemudik inginnya mengisi di rest area. Akhirnya menumpuk dan mengakibatkan kepadatan,” jelasnya.

Karena itu, akan lebih baik jika para pemudik mengisi BBM secara penuh sejak awal berang­kat mudik. Sehingga tidak terjadi kemacetan. Benyamin memperkirakan, setelah sampai di Jawa Tengah, pemudik tidak lagi mengalami hambatan. Arus mudik kendaraan diprediksi lancar hingga ke Jawa Timur. “Jawa Timur landai saja, lancar semua,” ucap dia.

Tahun ini jumlah pemudik diprediksi meningkat 30 persen dari tahun lalu. Jumlahnya diperkirakan mencapai 14,9 juta orang dari Jabodetabek. Pemerintah telah menyusun beberapa skema pengaturan lalu lintas yang akan diterapkan. Selain satu arah, ada contraflow. “Untuk contraflow mungkin hanya di tol Cikampek,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meluncurkan aplikasi Peta Jelajah Nusantara. Aplikasi tersebut dapat digunakan sebagai pemandu oleh masyarakat yang memilih perjalanan darat.

Ruas tol Trans-Jawa. Selama arus mudik diberlakukan sistem satu arah dari Cikampek hingga Brebes. (Mokhamad Zubaidillah/JAWA POS RADAR BROMO)

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengungkapkan, pada masa kini masyarakat lebih menyukai peta berbasis digital. “Adanya Peta Jelajah Nusantara ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk memperoleh informasi seperti rute navigasi, posko mudik, dan posko kesehatan. Ini bagus digunakan masyarakat untuk menambah referensinya sebagai acuan rute jalur mudik,” tuturnya.

Selain itu, ada informasi pengaturan jalur lalu lintas seperti jalur satu arah, ganjil genap, dan jalur alternatif. Aplikasi Peta Jelajah Nusantara juga dilengkapi informasi mengenai letak titik-titik rawan kecelakaan di jalur mudik. Dengan pengaturan, pengguna akan bisa mendapatkan notifikasi setiap mencapai daerah titik rawan kecelakaan sejak radius 2,5 km.

Informasi dan data yang tersaji di dalam aplikasi tersebut merupakan data resmi yang terkini dari sejumlah instansi yang terkait dengan pelayanan transportasi (Kemenhub), pelayanan kesehatan (Kemenkes), sarana dan prasarana jalan (Bina Marga Kementerian PUPR), serta pengelolaan jalan tol (BPJT). Selain itu keamanan dan ketertiban (Korlantas Polri) serta pelayanan pencarian dan pertolongan (Basarnas). Aplikasi Peta Jelajah Nusantara itu dapat diunduh dari Google Play Store bagi para pengguna Android.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (idr/lyn/c9/git)