Sistem Pendidikan Dinilai Belum Dukung Kreativitas Anak

Sistem Pendidikan Dinilai Belum Dukung Kreativitas Anak

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal mengatakan, pendidikan di sekolah yang ada saat ini masih sangat minim support system dari pemerintah. Sekolah yang ada saat ini belum sesuai dengan gawat darurat pendidikan di negeri ini.

“Sistem pendidikan yang ada tidak banyak memberikan ruang untuk pengembangan diri dan cenderung membelenggu kreativitas anak. Saat ini, anak- anak lebih banyak terbebebani oleh materi pelajaran yang membuat daya kritis mereka justru tidak muncul,” katanya, Selasa, (10/4).

Ini disebabkan orientasi sekolah guna memenuhi kebutuhan industrialisasi. Sementara fungsi guru belum mampu memberikan perubahan yang besar bagi peserta didiknya.

“Guru belum siap mengantarkan anak didiknya untuk menjawab tantangan pendidikan di masa mendatang. Padahal di era disrupsi seperti saat ini yang paling dibutuhkan justru guru yang lebih berfungsi sebagai motivator, role model, menginspirasi, mampu membangun karakter anak didiknya,” terang Rizal.

Menurutnya, perlu ada transformasi mendasar pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem berupa pendidikan yang benar-benar memberikan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator guna meningkatkan kompetensi anak.



Melalui cara ini, lanjutnya, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) hadir. Menawarkan konsep transformasi melalui penciptaan sebuah ekosistem sekolah yang lebih siap mengantarkan anak-anak didik yang siap menjawab tantangan zaman.

Terdapat empat prinsip utama ketika sekolah itu menjadi sebuah ekosistem sekolah yang menyenangkan. Antara lain learning environment, pedagogical practice, character development, dan school connectedness.

Keempat prinsip itu yang patut menjadi perhatian bersama demi tumbuh kembang segala potensi anak. Sedangkan ekosistem sekolah menyenangkan antara lain memiliki ruang aktivitas fisik dan emosi, interaksi yang hangat, dan saling menghargai dalam kegiatan belajar sehigga siswa merasa aman dan percaya diri serta pembelajarannya terhubung pada persoalan nyata.


(met/JPC)