Sisakan 17 Ribu Kasus Stunting

KEPANJEN – Stunting atau problem tumbuh kembang anak masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Malang. Tahun ini diketahui masih ada 17 ribu kasus stunting. Jumlah itu mendapat perhatian khusus dari Bupati Malang Drs H.M. Sanusi MM.

Secara khusus dia menarget bila tahun depan jumlahnya harus bisa ditekan hingga 50 persen. Berkaca dari rekap 2018 lalu, dia optimistis target itu bisa terpenuhi.

”Tahun lalu mencapai 29 ribu kasus, meskipun ada penurunan di tahun ini, tapi masih tergolong tinggi, dan harus dikurangi lagi,” tegas Sanusi. Berbagai upaya sudah dilakukan pemkab.

Salah satunya tersaji kemarin (4/12), saat digelar workshop gerakan serentak minum tablet tambah darah pada remaja putri. Acara yang digelar di Pendapa Kabupaten Malang itu menjadi bagian dari pencegahan stunting sejak dini yang difokuskan pada remaja putri dan calon ibu.

”Selain menambah darah, tablet tersebut juga menambah nutrisi yang mengandung vitamin. Saat remaja-remaja ini menjadi ibu dan sedang mengandung, risiko bayi terkena stunting-nya akan kecil,” terang Sanusi.

Di sisi lain, acara tersebut juga turut mengampanyekan pola makan yang sehat dan nutrisi yang cukup. Di sisi lain, Sanusi meyakinkan bila tahun depan pihaknya akan menggeber program screening hipoteroid untuk bayi yang baru lahir.

Hipoteroid sendiri merupakan gejala yang kekurangan tiroid atau sistem yang memegang peran penting dalam perkembangan sistem saraf otak dan metabolisme tubuh. ”Jika bayi terkena hipoteroid, bukan tidak mungkin bayi akan tumbuh dewasa dengan IQ rendah,” terang Sanusi. ”Nantinya, screening dilakukan maksimal 3 hari setelah bayi lahir,” tutupnya.

Pewarta : Bagus Prakoso
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya