Sinyal Transformasi Kecamatan Kepanjen

KEPANJEN – Iklim investasi di Kecamatan Kepanjen mulai menggeliat. Kemarin (18/11) Bupati Malang H.M. Sanusi bersama jajaran Direksi Grand Miami Hotel resmi melakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) pembangunan hotel berbintang 4.

”Grand Miami ini adalah hotel berbintang 4 pertama yang dibangun di Kepanjen. Sebagai pionir kami berharap ke depannya pengembangan Kota Kepanjen menjadi ibu kota yang sejati sudah terpenuhi,” kata Sanusi.

Pembangunan hotel tersebut, dia menambahkan, juga diharapkan menjadi gerbang investasi bagi sektor lain. ”Kalau hotel ini berkembang, otomatis investasi yang lain juga akan mengalir seperti misalnya mal, restoran, tempat hiburan, dan tempat wisata juga akan bergantian berkembang di Kabupaten Malang,” kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Dia juga mengatakan bila ke depan akan semakin banyak event bertaraf nasional maupun internasional yang diselenggarakan di Kabupaten Malang.

”Tahun 2020 mendatang kami berpeluang menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 untuk cabor sepatu roda, maka hotel maupun fasilitas pendukung lainnya harus kami siapkan dari sekarang,” imbuhnya.

Terkait kemungkinan adanya lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang terancam akibat investasi, Sanusi memastikan bila alih fungsi lahan adalah sebuah keniscayaan dalam pembangunan wilayah.

Kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan, dia menuturkan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa rekayasa untuk mempertahankan LP2B di Kabupaten Malang. ”Kami sudah siapkan konsep untuk membikin sawah baru, Di Desa Peniwen rencananya 1.000 hektare.

Ditambah dengan dinas pertanian juga sudah proses untuk pembangunan 20 titik sumur bor dengan kapasitas 10 hektare per titik. Itu nanti bisa digunakan sebagai lahan pengganti bagi investor,” jelas dia.

Terpisah, owner Grand Miami Hotel Hendra Gunawan menuturkan bahwa pembangunan hotel tersebut diperkirakan akan menghabiskan anggaran Rp 50 miliar. ”Hotel ini kami bangun bintang 4, tapi dengan fasilitas bintang 5,” kata Hendra saat ditemui usai groundbreaking.

Berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi, Hendra menuturkan bahwa Grand Miami Hotel akan dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti kolam renang, jacuzzi, bar, pusat olahraga (gymnastic), hall, meeting room, dan spa.

”Total akan kami sediakan 100 kamar dengan tiga tipe deluxe, superior, dan eksekutif. Untuk hall kami sediakan dengan kapasitas 800–1.000 orang dan meeting room dengan kapasitas 50–60 orang,” jelasnya.

Memilih Kepanjen sebagai lokasi pembangunan juga bukan tanpa alasan. Dengan banyaknya event kelas regional maupun nasional yang digelar oleh Pemkab Malang serta potensi wisata di Malang Selatan, dia menilai bahwa potensi tersebut cukup menggiurkan di kalangan pebisnis.

”Ke depan kalau banyak event digelar di Kabupaten Malang maka tentu kami akan diuntungkan. Semakin ramai kabupaten maka bisnis akan ramai, begitu pun kalau pariwisata ramai maka kami sebagai pelaku bisnis juga akan diuntungkan,” jelas dia.

Dari aspek regulasi, Ketua DPRD Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto berkomitmen bahwa pihaknya akan segera menuntaskan peraturan terkait dengan tata ruang Kepanjen.

”Harapan kami yang paling utama yaitu peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), kalau sebelumnya konsentrasi masih di kota maka ke depan semua bisa dialihkan ke kabupaten,” jelas dia.

Soal tata ruang, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menuturkan bahwa bukan hanya Kepanjen yang harus disiapkan dasar hukumnya. Namun, juga wilayah yang ada di sekitar seperti Kecamatan Pakisaji dan Gondanglegi.

Terkait dengan infrastruktur, senada dengan Sanusi, mantan kepala Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, itu menuturkan bahwa sudah waktunya pembangunan fasilitas pendukung ibu kota dimulai.

”Bukan hanya hotel, fasilitas lain seperti bioskop, mal, dan ruang terbuka hijau harus dipersiapkan sejak sekarang,” terang Didik. ”Kalau perlu dalam waktu 1–2 tahun ke depan harus ada pembangunan minimal lima sampai sepuluh hotel baru di Kepanjen,” tutupnya. 

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya