Silaturahmi Sastra Radar Malang, Sastrawan Jangan Lelah Kirim Sastra Ke Media Massa

KOTA MALANG- Suasana hangat terjadi di cafe news Jawa Pos Radar Malang, Jumat (26/7). Pasalnya, Redaktur sastra Malang Post, Bagus Ary W dan juga sastrawan Malang Faris Naufal R malam kemarin berdiskusi dengan pegiat sastra kota Malang di acara “Silaturahmi Sastra” dengan tema “Ruang Sastra dan Peran Media”.

Dalam acara bulanan tersebut, Bagus mengatakan kalau media terutama koran menempatkan karya sastra di tempat yang istimewa. Pasalnya, hanya seminggu sekali saja kolom tersebut muncul di koran.

“Karena apa itu begitu spesialnya. Kita hanya mengkhususkan di hari Minggu dan itu banyak email yang masuk,” katanya.

Jadi, bukan hal yang mengagetkan, jika ada banyak karya sastra yang bagus entah itu cerpen atau puisi yang telah dikirim ke media, tapi, tak bisa tayang di halaman sastra suatu media.

“Itu banyak yang bagus tapi itu semua berupa taste seorang redaktur dan juga kita liat berapa panjangnya liat space juga,” tutur ia ke pegiat sastra yang didominasi oleh kaum milenial.



Sementara itu, Faris mengatakan, kalau seorang sastrawan jangan pernah menyerah untuk terus berkarya dan mengirim karyanya di media. Pasalnya, hanya di media-lah rasa kesusastraan mereka diasah.

“Terus saja menulis. Kita gagal kirim saja lagi jangan ragu. Kalau sampai masuk di media itu karya sastra kalian sudah bisa dikatakan bagus karena ini sudah disortir oleh redaktur sastra yang pastinya nggak main-main milih karya sastra,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, jangan melihat dan menganalisis karya sastra yang telah terbit di media-media untuk ditiru supaya terpilih kelak karyanya karena hal tersebut akan mematikan orisinalitas karya sastra.

“Jangan selalu baca puisi dan cerpen yang terbit di media A atau B. terus ditiru, jangan. Temukanlah titik temu dengan gayamu sendiri. Orisinalitas di media itu juga penting,” ujarnya.

Maka dari itu, Faris mengatakan, menulis karya sastra di media itu bukan perkara hebat-hebatan menjadi sastrawan. Namun, media menyediakan ruang sastra untuk sastrawan berproses menemukan karakter karyanya sendiri.

“Ini bukan legitimasi kalau karyanya naik itu hebat. Tapi, semua itu proses belajar menemukan rasa dan keaslian karyanya yang menemukan titik temu dengan keinginan redaktur suatu media. tak ada yang berkompetisi di sini,” ujarnya.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Fia