Sidak di Pasar Surabaya, Temukan Harga Bawang di Atas HAPK

JawaPos.com – Harga beberapa komoditas bahan pokok yang sebelumnya naik kini perlahan mulai turun. Misalnya, bawang merah dan putih. Karena itu, Dinas Perdagangan (Disdag) Surabaya bersama Satgas Pangan Polrestabes Surabaya mendatangi sejumlah pasar tradisional dan modern untuk melakukan pemantauan. Hasilnya, ditemukan beberapa pedagang nakal yang masih menjual bahan pokok di atas harga acuan penjualan di konsumen (HAPK).

Pasar Genteng Baru menjadi lokasi pertama yang didatangi petugas kemarin (17/5). Sejumlah pedagang yang menjual komoditas bahan pokok (bapok) disidak. Mereka ditanya asal usul komoditas itu dan harga yang dipatok. Awal sidak, petugas belum menemukan pelanggaran oleh pedagang.

Sejumlah pedagang terpantau sudah menjual bawang merah dan putih di bawah HAPK. Yakni, bawang putih jenis sinco dijual Rp 30 ribu per kilogram dan bawang merah dijual Rp 25 ribu-Rp 30 ribu. ”Kalau milih sendiri Rp 30 ribu. Kalau langsung cawuk, harganya Rp 25 ribu,” ucap Supatin, salah seorang pedagang.

Berpindah dari satu stan ke stan lain, petugas baru menemukan beberapa dugaan pelanggaran. Ada pedagang yang menjual bawang putih Rp 35 ribu. Padahal, HAPK-nya Rp 32 ribu. Saat ditanya, pedagang tersebut mengaku membeli komoditas itu Rp 30 ribu per kilogram.



Menanggapi temuan tersebut, Kepala Disdag Surabaya Wiwiek Widayati meminta pedagang itu menurunkan harga jual bawangnya. Sebab, dia dinilai mengambil untung yang terlalu tinggi. Itulah yang bisa berdampak pada perilaku ikut-ikutan terhadap pedagang lain. ”Masyarakat yang paling kena imbasnya kalau harga terlalu tinggi,” jelasnya.

Beralih ke stan lain, petugas menemukan bawang putih jenis kating yang dijual Rp 40 ribu per kilogram. Saat ditanya, pedagang tersebut membelinya dengan harga yang cukup tinggi. Petugas menengarai komoditas tersebut merupakan stok lama. Dia pun masih menerapkan harga yang cukup jauh dari HAPK.

Terkait beberapa temuan itu, petugas langsung meminta pedagang menurunkan harga jual bawang. Satgas pangan juga akan menelusuri asal usul komoditas yang masih dijual di atas ketentuan. ”Beberapa mengaku beli dari tengkulak di Pasar Pabean dengan harga yang masih tinggi. Kami minta mereka tunjukkan lokasinya untuk diperiksa satgas dari kepolisian,” jelas Wiwiek.

Selain mendatangi pasar tradisional, petugas gabungan memantau harga bapok di salah satu pasar modern Jalan Basuki Rahmat. Di lokasi tersebut, petugas tidak menemukan penjualan bawang di atas harga ketentuan. Namun, terdapat beras organik yang dijual melampaui HET. ”Sementara produk harus ditarik hingga ada izin kejelasan penjualannya,” tambahnya.

Wiwiek menambahkan, kegiatan tersebut diadakan untuk memantau sejumlah harga bapok di pasaran. Kegiatan serupa akan semakin diintensifkan. Terutama menjelang Lebaran. Jika terjadi kenaikan harga bapok secara masal, pihaknya bisa saja mengadakan operasi pasar untuk mengintervensi harga. Dengan begitu, masyarakat tidak keberatan saat membeli kebutuhan pokok.