Siapkan Diorama Perjalanan Ken Arok

Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan legendaris dari Soekarno dalam peringatan HUT RI 17 Agustus 1966 itu benar-benar dihayati oleh Disparbud (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Malang. Melalui bingkai diorama (miniatur tiga dimensi), perjalanan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari, bakal disajikan.

SINGOSARI – Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan legendaris dari Soekarno dalam peringatan HUT RI 17 Agustus 1966 itu benar-benar dihayati oleh Disparbud (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Malang. Melalui bingkai diorama (miniatur tiga dimensi), perjalanan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari, bakal disajikan.

Saat ini, diorama yang berjumlah lima episode tersebut masih dikerjakan di pusat studi Ken Dedes, Singosari. Bila rampung, diorama bakal dipertontonkan di Museum Singhasari. ”Ini masih dalam tahap pengerjaan. Sudah mulai Oktober tahun lalu. Target April 2018 ini sudah selesai dan bisa dipajang,” kata perajin diorama Ken Arok, Djoko Rendy.
Untuk menuntaskan pekerjaan tersebut, dia mengakui ada proses panjang yang harus dilalui. Karena cerita perjalanan Ken Arok harus tergambar semuanya. Kelengkapan seperti patung, candi, dan pendukung lainnya harus bisa dia kreasikan. Skala candi yang dibuat juga harus dipertimbangkan dengan matang. Total ada lima bangunan candi yang dibuat menjadi replika. Mulai Candi Badut, Candi Jago, Candi Singosari, Candi Sumberawan, dan Candi Kidal.

”Ya, ini bukan pekerjaan sembarangan. Kalau skalanya tidak sama kan jelek. Belum lagi ini ada ceritanya. Jadi, harus dikerjakan dengan baik dan hati-hati,” terangnya.
Salah satu tahapan tersulit menurutnya adalah membentuk detail candi dan patung. Meski menggunakan bahan resin, tapi untuk memolesnya dibutuhkan ketelitian dan kesabaran. ”Memang dicetak agar mempermudah pembuatan. Tapi, satu per satu harus dibentuk dan dirangkai hingga membuat alur cerita,” jelasnya.

Ukuran setiap bentuk yang disajikan beragam. Mulai ukuran 15 cm hingga ada candi yang berukuran 70 cm. ”Ceritanya kan sudah ada. Nanti tinggal ditata sesuai episodenya. Jadi seperti film, tapi dalam bentuk diorama,” imbuh pria berusia 53 tahun tersebut.
Bila mampu dirampungkan, masyarakat, khususnya pelajar, bisa belajar tentang perjalanan Ken Arok lebih mudah. ”Koleksi museum kan sekarang tidak banyak karena banyak yang rusak dan dimiliki kolektor. Lewat diorama ini bisa menjadi sarana edukasi untuk masyarakat dalam mengenal sejarah,” tandasnya.

Pewarta : Hafis Iqbal
Penyunting : Bayu Eka
Copy Editor : Arief Rohman
Foto : Falahi Mubarok