Si Jago Tembak yang Melawan Belanda, Jepang, hingga PKI

Nama pejuang asli Malang Mayor TNI Hamid Roesdi diabadikan menjadi nama jalan di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Jalan sepanjang sekitar 2 km itu bermula dari bundaran Bengawan Solo ke timur. Lalu, siapakah Hamid Roesdi itu?

Makam Hamid Rusdi

Warga Malang barangkali sudah cukup akrab dengan nama Hamid Roesdi. Sebab, selain dijadikan nama jalan, pejuang asli Malang tersebut juga menjadi nama terminal baru di daerah Kedungkandang. Memang, sosok Hamid Roesdi layak dikenang oleh warga Malang karena dialah salah satu pejuang yang dengan gagah berani melawan penjajah Belanda hingga Jepang.

Dari penelusuran koran ini, Mayor TNI Hamid Roesdi lahir di Pagak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 1911. Dan, dia meninggal dunia di Malang, 8 Maret 1949, pada umur 38 tahun.

Dia merupakan pejuang berasal dari Malang yang berhasil menumpas PKI pada 1948 di Donomulyo. Mayor TNI Hamid Roesdi lahir di Desa Sumbermanjing Kulon, RT 32, RW 08, Kecamatan Pagak. Kini, jalan di depan rumah tersebut juga diberi nama Jalan Hamid Roesdi. Alamat rumah kelahiran sang pejuang tersebut kini berada di Jalan Hamid Roesdi No 117, Pagak.

Hamid Roesdi merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan H. Umar Roesdi dan Mbok Teguh. Anak pertama yang juga kakaknya bernama Nitiduwiryo. Sedangkan adik-adiknya di antaranya, Hasyim, KH Shaleh, Soekarni, Tayyib Roesdi, Sanusi, dan Abdul Radjak.

Dari keterangan Maslachah, adik ipar Hamid Roesdi, rumah yang kini ditinggali cucu sambung dari Hamid Roesdi, yakni Mariam dan suaminya Sauri, itu merupakan rumah kedua yang dimiliki Umar Roesdi. Rumah pertama berada di kompleks SMAN 1 Pagak. Sebab, zaman dulu Umar Roesdi telah mewakafkan rumahnya untuk bangunan sekolah. Saat itu, Umar Roesdi tergolong orang terkaya di kawasan Pagak. Dia memiliki banyak tanah. Jadi, salah satu rumahnya telah diwakafkan demi sebuah lembaga pendidikan.



”Jadi, rumah yang asli sebenarnya ya sekarang berada di kompleks SMAN 1 Pagak. Namun, bentuk bangunan aslinya sudah tidak ada, ya dibongkar menjadi sekolah,” terang istri dari Tayyib Roesdi, adik kandung Hamid Roesdi ini.

Kenapa rumah yang asli diwakafkan? Umar waktu itu ingin memiliki rumah yang berada di dekat pinggir jalan. Tujuannya untuk membuka usaha berdagang juga. Akhirnya, dia membeli rumah yang saat ini ditinggali cucu keponakannya, Mariam dan suaminya Sauri.

Nah, di rumah inilah, masa-masa kecil Hamid Roesdi dihabiskan bersama kedua orang tua dan ketujuh saudaranya. Sebagaimana anak kecil pada umumnya, Hamid Roesdi tidak berbeda dari teman sebayanya di kampung. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain. Yang membedakan mereka, kalau teman sebayanya suka bermain bola atau layang-layang, sedangkan Hamid Roesdi semasa kecil lebih suka bermain pistol-pistolan.

Dia memiliki bakat menembak. ”Bahkan, meski sudah jadi tentara, kalau pulang ke Sumbermanjing Kulon ya tetap ke hutan untuk menyalurkan bakat menembaknya. Biasanya dia kalau menembak dengan menunggangi kudanya,” ungkap Maslachah.

Selain memiliki bakat menembak, Hamid Roesdi juga aktif berorganisasi. Ketika sudah remaja dan menginjak usia dewasa, dia dikabarkan juga aktif bergabung dengan organisasi pemuda bentukan Nahdlatul Ulama (NU). Namanya Pandu Ansor.

Di organisasi yang kini bernama Gerakan Pemuda Ansor inilah, mental Hamid digembleng. Dia memahami arti nasionalisme dan heroisme untuk menentang penjajah. Maka, ketika ada gerakan melawan penjajah Belanda hingga pemberontakan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI), Hamid selalu di garda terdepan.

Jiwa keberaniannya sudah tertempa di Pandu Ansor. Setelah ikut Pandu Ansor, Hamid Roesdi mendirikan Majelis Muslimin ala Indonesia.

Penyunting: Abdul Muntholib & Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono