Sholehudin, Perajin Batik Organik Buring dengan Pewarna Alami

Pameran di Paris, Brand Hermes Tertarik

Di Malang, ada kerajinan batik yang tak biasa. Sebab, pewarnanya menggunakan bahan alami dari kayu. Karena tergolong langka, batik yang diberi nama Batik Organik Buring ini membuat pemilik brand tas Hermes pun kepincut. Bagaimana kisahnya?

Sholehudin, pemilik usaha Batik Organik Buring, ini sedang mencelupkan kain ke dalam ember besar berisi cairan berwarna kecokelatan ketika wartawan koran ini datang untuk mewawancarainya. Di dekat ember besar tersebut ada panci berisi air dan kayu yang sedang dimasak di kompor. Tidak jauh dari situ, ada beberapa kain batik basah yang sudah dicelup untuk pewarnaan–tampak menggantung di jemuran.

Setiap hari, Batik Organik Buring diproduksi di Jalan Mayjen Sungkono Gang 3 No 60A Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, dari pukul 08.00–15.00. Sholeh–sapaan akrab Sholehudin–dengan sabar menjelaskan langkah-langkah pembuatan Batik Organik Buring.

”Pembuatannya dimulai dari kain putih polos,” ujarnya. Kain putih polos ada yang berasal dari bahan katun dan sutra.

Dari kain putih polos tersebut, lalu menggambar motif menggunakan pensil. ”Setelah itu, baru proses membatik dengan cara dicanting menggunakan tinta malam,” terang Sholeh. Dan, untuk proses selanjutnya yaitu pencelupan (pewarnaan).

Pencelupan ini dilakukan pada cairan hasil didih bahan baku kayu dengan air. ”Satu kilogram kayu dicampur dengan 10 liter air, lalu dimasak hingga menjadi 7 liter,” jelas laki-laki kelahiran Malang, 4 Mei 1969 tersebut. Setelah dimasak, kemudian ditunggu hingga dingin lalu kain dicelupkan.

Proses pencelupan warna dilakukan 10–15 kali untuk satu kain. ”Jumlah pencelupan pun bergantung dari berapa banyak warna yang ada dalam satu kain batik,” ungkapnya.

Agar warnanya ”terkunci” digunakan kapur, tawas, dan kerikil tunjung. Tahap tersebut dinamakan fiksasi. Penguncian warna dengan kapur, tawas, maupun dengan kerikil tunjung memengaruhi hasil akhir warna kain. Jika menggunakan kapur maupun tawas, warnanya menjadi terang. Sedangkan jika menggunakan kerikil tunjung, warnanya jadi gelap.

Untuk bahan baku pewarna organik, Sholeh memakai beberapa macam kayu. Seperti kayu tegeran, secang, mahoni, akar mengkudu, tingi, jambal, lenggading, jelawe, dan indigo pera yang diekstrak terlebih dulu. Untuk kayu tegeran menghasilkan warna kuning, mahoni (merah bata), dan tingi (cokelat), dan jambal (cokelat tua). (oranye).

Untuk kayu indigo pera yang diekstrak menghasilkan warna biru; secang, akar mengkudu, dan lenggading (oranye); dan kayu jelawe (kuning tua). ”Kalau ingin warnanya hijau, tinggal mencampurkan warna kuning dari kayu jelawe dan warna biru dari indigo pera,” katanya.

Namun, salah satu kendala dalam usaha batik ini yaitu belum adanya bahan baku kayu dari Malang. ”Bahan baku didatangkan dari Jawa Tengah,” kata dia. Karena itu, sedikit demi sedikit Sholeh mulai mengembangkan bahan baku di Malang. Dia membeli bibit kayu dan ditanam di beberapa daerah di Malang.

Selain itu, kendala lainnya dari Batik Organik Buring ini, yaitu mencari pembatik andal di Malang tidaklah mudah.

Sementara itu, untuk setiap minggu, Sholeh dan 6 perajin bisa menghasilkan 10 kain batik. ”Proses membatik yang cukup panjang dan rumit ini membuat harganya tidak murah. Apalagi dengan kualitas bagus serta warnanya yang tidak mudah luntur,” jelas bapak dari empat anak ini. Menurut suami dari Irma Kusumawarhani ini, Batik Organik Buring memang menarget kalangan menengah ke atas sebagai segmennya.

Untuk harga, dia membanderol paling murah mulai dari Rp 600 ribu (batik kain katun) hingga Rp 5 jutaan (batik kain sutra). Ada pula yang dijual berbentuk pakaian sudah jadi, harganya mulai Rp 500 ribuan.

Untuk membeli produk barik milik Sholeh bisa di Malang Hill Gallery and Homestay yang berada di Jalan KH Malik No 50 A Buring. Galeri ini buka mulai pukul 07.00–21.00.

Ditanya soal awal mula lahirnya Batik Organik Buring, Sholeh mengaku baru belajar membatik pada 2010 lalu. Sebelumnya, pria berusia 48 tahun ini bekerja sebagai karyawan koperasi di salah satu perusahaan rokok. Kemudian dia memutuskan untuk berhenti dan bergabung dengan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Yagasu bersama saudaranya yang sekaligus Ketua LSM Yagasu Bambang Suprayogi.

”Waktu itu ada kabar akan ada pengurangan karyawan di perusahaan rokok, jadi saya memutuskan ikut saudara saja,” ujar alumnus MAN 1 Malang ini.

Mengikuti LSM Yagasu di Medan, di sanalah dia belajar membatik dari bahan alami kayu mangrove. Kemudian pada 2013, dia kembali ke Malang dan memiliki misi untuk memberdayakan ibu-ibu yang ada di Malang.

”Awalnya ada 20 perajin, tapi karena ada seleksi alam siapa yang telaten, jadi tersisa 6 perajin perempuan,” kata alumnus Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Malang ini.

Latar belakang Sholeh yang pernah menjadi dosen di beberapa universitas di Malang membuatnya tidak kesulitan untuk mengajari ibu-ibu yang ingin menjadi perajin batik. ”Sering juga bule-bule datang untuk belajar membatik ke sini,” ujarnya.

Desember 2017, dia melanjutkan, produk Batik Organik Buring mengikuti acara Livelihoods Event sesi marketplace di Paris, Prancis karena pemilik brand Hermes mengajaknya untuk pameran di sana. ”Pemilik brand Hermes Paris tertarik dengan pewarna alam yang kami gunakan,” ujarnya.

Pewarta: Khulda Rahmatia
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto