Shindy Patricia, Mahasiswi UB Pelari Spesialis Kelas Ekstrem

Shindy Patricia boleh disebut wonder women. Prestasinya di cabang lari belum ditandingi banyak pelari perempuan di negeri ini. Sudah puluhan medali dia raih dari olahraga lintas alam dan pegunungan. Padahal, dulu ketika masih kecil dia paling takut pada ketinggian.

Tak pernah terbayang di benak Shindy dirinya bisa cinta pada cabang lari lintas alam. Lari dengan melintasi dan naik-turun gunung ternyata justru melambungkan namanya di kancah internasional. Puluhan gunung, baik di Indonesia maupun luar negeri, sudah berhasil dia ”taklukkan”.

Mulai Gunung Rinjani di Lombok, Tarawera di Selandia Baru, event Vibram HK Hongkong, Ultra Trail Unseen Koh Chang di Thailand, Malaysia Eco di Penang, maupun event di Bromo. Untuk setiap satu rute, Shindy harus berlari melintasi lebih dari 100 kilometer. (Prestasi lengkap baca grafis).
”Saya malah berharap bisa tetap berlari hingga tua,” ujar Shindy sambil tersenyum.

Mahasiswi S-2 Akuntansi Universitas Brawijaya (UB) ini heran dengan pencapaiannya di cabang lari trail. Sebab, dulu ketika masih SMP, jangankan ke gunung, berada di gedung yang agak tinggi saja kakinya sudah gemetar. Tapi, rasa takutnya itu hilang sejak dia diajak bergabung dengan komunitas lari pada tahun 2014. Dia penasaran kenapa teman-temannya kok tergila-gila sama lari.

Dari situlah Shindy mulai ikut latihan. Setelah merasa kuat lari jarak jauh, dia mulai berani ikut lomba. ”Kemudian, saya coba-coba ikut event trail pertama kali di Bromo Tengger Semeru 30K pada 2014 lalu. Tapi saya kecewa,” kenang dia.

Pada event itu dia finis over cut off time alias jauh dari target waktu yang ditentukan panitia. Sejak itu, mulailah tumbuh benih-benih rasa penasaran di dalam diri Shindy. Bagaimana caranya berlari trail agar bisa finis, itulah yang ada di benaknya kala itu, sampai tiap ada event lari dia ikuti. ”Beberapa kali mengikuti event trail dan naik podium, akhirnya semakin memotivasi saya agar terus berlari, khususnya trail running,” beber perempuan kelahiran Medan itu.

Baru-baru ini dia merasakan event paling berat yang pernah dia coba. Yakni, ajang Rinjani 100 Ultra (100K) di Lombok awal Mei lalu. Apalagi, dari tahun ke tahun para peserta yang sampai ke garis finis selalu berkurang. Dari 158 peserta, hanya ada 27 orang yang sampai ke garis akhir. 24 pria dan 3 perempuan. 1 di antaranya adalah Shindy.

”Sebenarnya saya tidak yakin bisa finis. Suatu pencapaian luar biasa dalam hidup saya sekaligus sangat bangga bisa menjadi finisher perempuan Indonesia pertama untuk kategori 100K di event tersebut,” ujar mahasiswi pascasarjana UB tersebut.

Untuk bisa finis, Shindy harus melatih dirinya dengan latihan khusus, yakni lari di pegunungan minimal 1 kali dalam seminggu. Kadang dia berlatih di Gunung Panderman. Selain fisik kuat, peralatan lari pun harus lengkap. Tidak seperti di event lari umumnya, lari lintas alam membutuhkan banyak perlengkapan. Biasanya dalam race trail, baik dalam maupun luar negeri.

”Setiap peserta diharuskan membawa mandatory gear seperti jaket windproof dan waterproof, makanan atau minuman (minimal 1–1,5 liter ), obat-obatan pribadi, pluit, dan handphone,” sambung Sindy. Jadi, lari yang harusnya ringan pun mesti dia tempuh dengan beban-beban yang wajib dibawa.

Berlari lintas alam itu bukan hal mudah. Apalagi dia adalah perempuan. Banyak risiko di lapangan. Tetapi menurut dia, itulah salah satu tantangannya. Lari trail tidak hanya menguji fisik, tapi juga mental. Namun, dia sangat puas ketika berhasil finis sampai puncak gunung. ”Dengan berlari, saya bisa sambil tambah teman dan bisa sekalian traveling,” pungkasnya.

Selain itu, Shindy juga bisa mengeksplore Indonesia yang memiliki potensi alam luar biasa indah jika dibandingkan negara lain. Banyak pengalaman dan hikmah yang dia petik selama terjun ke trail running. ”Saya jadi cinta alamnya, larinya, tantangannya, dan semuannya. Itu membuat saya lebih bersyukur dan tegar memandang kehidupan,” tutup Sindy.

Pewarta: Elly Kartika Sari
Edior: Moh. Arief
Penyunting: Abdul Muntholib