Setengah Abad, Habis 250 Porsi Per Jam

TENTU tidak mudah mempertahankan cita rasa hingga setengah abad lebih, sementara pelanggannya terus bertambah.

Itulah Es Santan Legendaris Pak No. Sejak 1968, es santan di Jalan Sempu itu tetap menjadi rujukan kuliner di Malang Raya. Apa rahasia di balik kelezatan Es Santan Pak No yang buka sejak setengah abad lebih itu?

+++++++

Pantauan Jawa Pos Radar Malang, es santan di Jalan Sempu, Kelurahan Kasin, Kecamatan Sukun, Kota Malang, itu tidak pernah sepi pembeli.

Termasuk dua cabangnya, masing-masing di kawasan Pasar Comboran, Kelurahan Sukoharjo, dan di Jalan Puncak Borobudur, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru.

Ketiga outlet es santan itu milik keluarga Sutono, warga Jalan S Supriyadi, Kecamatan Sukun. Sesuai nama pemiliknya, usaha es santan itu diberi nama Es Santan Legendaris 1968 Pak No.

Sejak berdiri pada 1968, semua dikerjakan oleh keluarga Sutono. Mulai istri hingga anak-anaknya. Tanpa memakai jasa karyawan meski outletnya berkembang pesat.

Untuk outlet pusat yang di Jalan Sempu dikelola sendiri oleh Sutono. Sedangkan anak pertamanya, Suwarno, mengelola outlet di kawasan Pasar Comboran, sementara anak keempat, Sunardi, buka di Jalan Puncak Borobudur.

”Kalau saya bukanya di sini sejak pertengahan Juni lalu,” terang Sunardi saat ditemui di outletnya Rabu lalu (6/11).

Lazimnya kuliner lain, Sunardi yakin ramainya pembeli karena es santan milik keluarganya itu rasanya lezat. Ada kekhasan tersendiri jika dibanding es santan lainnya.

Selain itu, harga yang dipatok juga terjangkau. Untuk menikmati satu porsi es santan hanya dibanderol Rp 4 ribu. ”Jika tambah roti hanya nambah Rp 1.000 saja. Berarti menjadi Rp 5 ribu per porsi,” terang Sunardi.

Harga es santan milik bapaknya di Jalan Sempu lebih murah lagi, yakni hanya Rp 3 ribu per porsi, jika ditambah roti jadi Rp 4 ribu per porsi. ”Begitu pun dengan Kakak, harganya sama dengan Bapak,” sambungnya.

Menurut Sunardi, penjualan es santannya tersebut dalam sehari tidak kurang dari 200 porsi. ”Mulai dari buka pukul 09.00 hingga tutup pukul 15.00,” katanya.

Sedangkan penjualan bapaknya menurut dia lebih banyak lagi, yakni sekitar 500 porsi per hari, padahal, waktu bukanya lebih singkat dibanding kedua cabangnya, yakni mulai pukul 11.00 sampai pukul 13.00. ”Dalam waktu segitu punya Bapak sudah habis,” tutupnya sembari tersenyum simpul.

Pewarta : Imron Haqiqi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan