Sesaat Jelang Balapan, Rutin Baca Surah Yasin

Angga D.W. Prahetsa membawa harum nama Kota Malang di kancah balap sepeda tingkat dunia. Tampil di nomor scratch race pada ajang Asian Track Championship (ATC) junior di Korea Selatan, 19 Oktober lalu, dia menjadi juara. Baginya, ini raihan gelar juara dunia kali kedua pada tahun ini.

GALIH R PRASETYO

Wajahnya tampak semringah ketika wartawan koran ini menemuinya di mess para atlet balap sepeda di Velodrom, Jalan Danau Jonge No.1, Sawojajar, Kota Malang, Minggu (17/11). Angga Dwi Wahyu (D.W.) Prahetsa juga tidak menunjukkan gestur kelelahan sedikit pun.

Padahal, beberapa jam sebelumnya dia melahap program-program latihan cukup berat dari sang-pelatih, Angga Fredy. Hari itu, atlet muda yang kerap disapa Hetsa itu bercerita banyak tentang kisahnya meraih back to back juara di ajang level internasional.

Ya, tahun 2019 ini boleh dibilang dia menjadi ”raja” di kejuaraan ATC Junior. Dua kali bertanding di ajang tersebut, dua medali emas dia raih. Ini adalah ajang sepeda balap elite tingkat dunia. Bagi atlet kelahiran Lumajang 18 tahun silam itu, mampu merebut juara di Korea Selatan tidak terlalu mengagetkan baginya.

Justru dia merasa takjub kala ikut kali pertama pada ajang ATC di Jakarta (12/1). Karena itu adalah penampilan pertamanya pada kejuaraan balap internasional dan langsung juara.

Justru kala digelar di Korea Selatan, dia agak terbebani dengan status juara bertahan. Untuknya, beban itu dia jadikan spirit agar jangan sampai kalah dari perwakilan negara lain. ”Alhamdulillah, saya bisa dua kali berturut-turut menjadi juara,” ujar siswa SMAN 6 ini.

Sebenarnya, saat tanding di Korsel itu, kondisi fisiknya sedang tidak fit. Namun, bermodal tekad kuat dan enggan pulang ke Indonesia dengan tangan kosong alias tidak juara, dia sukses mengatasi segala keterbatasan tersebut.

Dia mengakhiri lomba di kelas scratch race dengan menjadi terbaik di antara 15 pembalap lain. Dia menyisihkan pembalap dari India, Korea Selatan, Kazakhstan, dan China Taipei. ”Ketika itu saya hanya berpikir, malu kalau sampai tidak juara lagi,” ungkapnya.

Pada awal balapan, dia sempat tertinggal. Namun, dia berhasil menyalip dan berada di garis depan pada tiga lap terakhir. Dia menggunakan strategi membalap dengan mengambil lintasan paling atas di akhir-akhir lap. Strategi itulah yang membuat dia mampu menyalip lawannya.

Di beberapa meter menjelang garis finis, dia mampu meng-overlap pembalap sepeda asal Kazakhstan, Alexndr Bekenov. ”Saya habisan-habisan di lap terakhir dan akhirnya bisa menang setengah velg sepeda dari pembalap Kazakhstan,” cerita penyuka sate kambing itu.

Sukses itu, imbuh Angga, tak semata hasil latihan yang sangat keras. Tapi juga ada kekuatan lain. Apa itu? Spiritualitas. Dia mengaku, setiap menjelang tanding, dia rutin membaca ayat suci Alquran, khususnya surah Yasin.

Dia yakin, karena kekuatan doa dan baca Alquran itu membuat mentalnya menjadi tenang. Saat tanding tidak mudah panik. ”Saya merasa tenang setelah membaca Alquran,” ungkap dia yang mengaku selalu membawa kitab suci itu ketika pergi tanding ke mana pun.

Kemampuan Angga bukan hanya di nomor scratch race saja. Sebelumnya dia juga kerap menjuarai kejurnas pada nomor Mountain Bike (MTB) dan nomor road race. Salah satu buktinya ketika mampu menjadi juara di kejurnas beberapa bulan lalu. Dia bahkan telah menjadi atlet PON 2020 untuk nomor MTB.

Bagi Angga, dunia balap sepeda sudah dia geluti sejak kecil. ”Saya dulu di usia 5 tahun, sudah bisa naik sepeda tanpa bantuan roda samping,” terang dia.

Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib