Serma Sri Purwanto, Babinsa Lesanpuro yang Jadi ”Guru Besar” Hortikultura

Dirikan Kampung Organik, ”Muridnya” Berpangkat Lebih Tinggi

Serma Sri Purwanto saat sesi foto di studio Jawa Pos Radar Malang kemarin (25/3).

Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Hal inilah yang dirasakan Serma Sri Purwanto. Sebagai Babinsa, dia juga aktif membina petani agar menanam tanaman organik. Hasilnya, petani bisa memasarkan hasil panennya ke swalayan modern.

Serma Sri Purwanto tak henti-hentinya mengulum senyum saat berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Malang kemarin (25/3). Dengan jelentreh dia menceritakan pengalamannya di bidang hortikultura. Bidang inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi narasumber di berbagai daerah tentang pertanian.

Sebagaimana orang sukses, tidak ada yang instan bagi Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kelurahan Lesanpuro, Kedungkandang, ini. Dalam hal pertanian, pengalamannya terbentang panjang sejak 1995 silam.

Saat bercerita, pandangannya menerawang ke atas, seolah berusaha mengingat kenangan massa lalu. Pada 1995 itu, yang dia ingat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menggelar Gerakan Kembali ke Desa (GKD). Ini adalah program penghijauan kota, agar perkotaan tetap hijau seperti layaknya pedesaan. Salah satu programnya adalah penanaman hidroponik.

”Saya jadi pelaksana di Yonif 512 saat itu. Kami bikin percontohan menanam dengan polibag,” ucap bapak dua anak itu.



Sejak saat itu hingga 2012, kesatuannya masih menggunakan pupuk kimia untuk pertumbuhan tanaman. Namun, karena mulai ada yang melakukan pergeseran penggunaan pupuk kimia ke organik, Sri mencoba bereksperimen. Lantaran, sejak masuk TNI dia juga mendapat materi tentang pembuatan pupuk. ”Lalu, (pada 2012) saya dirikan kampung organik di Kelurahan Wonokoyo, dekat rumah,” kata putra alm Dasar-Sudarmi itu.

Sri merendah, menyebut kalau kemampuannya meracik pupuk organik hanya biasa-biasa saja. Meskipun, hasil tanaman sayur yang tumbuh dengan pupuk organik itu bisa menyuplai sejumlah store di Kota Malang. Karena sayur yang dihasilkan Sri bagus, hasilnya panen berhasil dijual di salah satu swalayan ternama di daerah Soekarno-Hatta, Kota Malang.

Pada tahun 2015, Sri diutus untuk penataran peningkatan kemampuan Babinsa bidang pertanian di Balai Benih Padi, Subang, Jawa Barat. Selama dua minggu Sri mendapatkan ilmu dari ahli pertanian bernama Prof Nur Jaman. Materinya tentang ramuan organik tanaman (rotan), ramuan organik ternak (roter), dan ramuan organik hama (roma).

Ketiga ramuan itu diciptakan profesor yang juga teman dekat Asisten Teritorial (Aster) Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Mayor Jenderal TNI Widagdo Hendro Sukoco.

Menurut dia, Prof Nur Jaman paham betul tentang pertanian karena dia merupakan penyuluh dan pemateri utama untuk tanaman organik di Mabes TNI-AD. Dari profesor tersebut Sri mengaku banyak belajar tentang tamanan.

”Sekarang saya racik buah, sayur, leri beras, gula merah, dan air kepala. Semua jadi satu, dan saya fermentasi. Jadilah pupuk organik yang siap digunakan,” kata pria kelahiran 23 Januari 1970 itu.

Nah, karena kemampuannya meracik pupuk itulah kemudian dia dilibatkan dalam pemilihan kampung tematik Kota Malang pada 2017. Sebagai Babinsa Lesanpuro, dia kembali menginisiasi kampung bertemakan tanaman organik. Yakni, kampung wisata sayur organik barang bela negara agro yang ada di Lesanpuro, Kota Malang.

”Hortikultura dan tanaman organik juga bagian dari bela negara. Sekarang memang masih tahapan pembangunan yang diteruskan. Namun, untuk edukasi masyarkat sudah saya lakukan berkala,” tuturnya.

Hasilnya, kampung tersebut mendapat peringkat enam dari total sepuluh besar kampung tematik Kota Malang 2017.

Nama Sri mulai dikenal saat dia memimpin prosesi penanaman sayur di kampungnya pada April 2017. Saat itu, Sri memberi penyuluhan kepada warga dari atas panggung. Sambil memegang mikrofon di depan banyak audiens, foto dirinya diungganya ke Facebook.

”Saat saya unggah, Prof Nur Jaman berkomentar, tanya saya sedang apa. Saya jawab sedang memberi penyuluhan tentang tanaman organik rotan dan roma. Beliau hanya jawab dengan tiga jempol. Mantap dan lanjutkan,” ucapnya sambil mengingat momen itu.

Tanpa disangka, dua minggu kemudian ahli tanaman dan penyuluh TNI-AD itu memberikan kontak lewat pesan Facebook agar segera dihubungi.

”Saya hubungi itu nomernya profesor. Ternyata saya diminta menjadi pemateri untuk penyuluhan Babinsa di Bogor. Saya kaget dan berdebar-debar. Dan tentu saya perlu pikir dulu,” kata Babinsa yang tinggal di Perum Pesona Buring Raya Wonokoyo itu.

Namun, kebimbangan Sri jadi pemateri atau tidak sirna saat turun perintah dari pusat. Sri harus benar-benar berangkat. Sebelumnya, dia hanya terbiasa menyuluh warga biasa seperti PKK, petani, siswa, dan petugas kelurahan. Sri pun mengisi biodata diri yang dikirimnya ke pusat.

”Saya nangis saat itu. Bimbang dan waswas. Istri juga sedang mengunjungi anak pertama yang lagi tugas kedinasan. Akhirnya saya titipkan anak kedua ke tetangga. Saya tetap memilih berangkat saat bulan puasa itu,” ucap pria kelahiran Pasuruan ini.

Sebelum berangkat, dia dipanggil Dandim saat itu, Letkol Arm Aprianko Suseno. ”Dandim menepuk pundak saya, dan memberi semangat,” katanya.

Pada akhirnya, Sri jadi pemateri penyuluhan hortikultura peningkatan pertanian aparat kewilayahan. Audiesnnya adalah Pasi Teritorial dan Babinsa dari seluruh batalyon. Ada yang pangkatnya lebih tinggi dari Sri, seperti kapten. Awalnya Sri gugup, namun akhirnya dia berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Selanjutnya, pada Agustus 2017, Sri diterbangkan ke Pusat Pendidikan Teritorial (Pusdikter) TNI-AD di Bandung. Dia lagi-lagi menjadi satu-satunya pemateri tanaman hortikulutra di TNI-AD. Di Bandung itu, selama dua minggu dia memberikan materi untuk utusan personel seluruh batalyon non apkowil.

”Sejak dulu tidak ada. Saya katanya yang pertama sejak diadakannya materi hortikulutra dalam penataran,” terang dia.

Meski begitu, rasa segan dan takut saat memberikan materi masih ada dalam diri Sri. ”Saya bukan akademisi. Ya bilang C, kadang jadi A, lalu jadi B, dan lain-lain. Akhirnya peserta ketawa semua. Bilang ’itu’ jadi ’iti’. Diketawain sama peserta,” ucapnya lalu tertawa.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Falahi Mubarok