Seriusi Balap Sepeda setelah Sebulan Diajak Ayah ke Velodrome

Malang Raya punya bintang baru di dunia balap sepeda. Adalah Rahma Alya Putri Nugroho sang bintang itu. Di usianya yang baru 10 tahun, dia sudah menjadi juara nasional pada kategori Challenge Girl nomor BMX di Sirkuit Youth Center Mlati Sleman Minggu (17/11).

ULFA AFRIANI

Senyum manis terus mengembang dari bibir Rahma Alya Putri Nugroho saat menemui Jawa Pos Radar Malang kemarin. Siswi kelas V MI Bustanul Ulum Kota Batu itu begitu bangga dengan prestasi yang dia raih. Prestasi itu tergolong cepat.

Sebab, praktis baru setahun dia serius menekuni dunia balap sepeda. Sebelumnya memang beberapa kali ikut kejuaraan tingkat lokal. Itu pun tidak menang. Namun, begitu ikut pada kejuaraan nasional (kejurnas), dia berhasil menjadi juara umum.

Dia menjelaskan, dirinya sejak kecil memang suka olahraga bersepeda. Namun, waktu itu belum ada pikiran untuk menjadi atlet sepeda. Keinginan serius menekuni dunia balap sepeda justru saat dia kelas IV. Itu setelah dia diajak ayahnya, Nugroho, melihat atlet balap latihan di Velodrome Sawojajar, Kota Malang. Hampir setiap hari selama satu bulan, sepulang sekolah dia diajak ayahnya ke sana.

Dari situ akhirnya muncul keinginan kuat untuk menjadi atlet balap sepeda. Dia minta ayahnya membelikan sepeda untuk balapan. Baru pada September 2018 dia dibelikan sepeda balap. ”Latihan rutin biasanya dilakukan di Perumahan Panorama Batu setiap Selasa–Jumat, sedangkan saat weekend biasanya berlatih di Songgoriti,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara ini.

Setelah berlatih, dia diminta ayahnya untuk mulai berani ikut kejuaraan. Pada Desember 2018, dia perdana mengikuti lomba di Velodrome Sawojajar. ”Saat itu saya terjatuh dan menangis karena belum juara,” ungkap anak kelahiran 2009 ini.

Belajar dari kegagalan itu, dia akhirnya bangkit dengan latihan lebih keras lagi hingga dia diminta ikut kejuaraan nasional. Dia harus melewati 7 seri lomba. Di antaranya, di Kendal Jawa Tengah, Sleman, Temanggung, Jepara, Blitar, dan 2 seri terakhir di Sleman. Dari 7 seri itu terakumulasi poin tertinggi diraih 119 poin. Karena dalam 6 kali seri dia selalu menjadi 3 besar, 1 kali seri mendapat peringkat 4.

Saat mendapatkan juara IV itu dia menangis. Karena biasanya selalu naik podium, tapi saat itu dia hanya mendapat peringkat IV. ”Sedih karena mengecewakan semuanya,” ungkapnya sambil mengingat momen menyedihkan itu.

Pada puncak kejuaraan itu, dia akhirnya terpilih menjadi juara umum. Di situlah dia merasa sangat bangga. Karena bisa membuat orang tuanya tersenyum. Dia juga bisa membawa harum nama sekolah dan Kota Batu di ajang nasional. Namun, dia belum puas. Sebab, cita-citanya bisa menjadi juara di ajang internasional.

Salah satu fokusnya saat ini dia ingin membeli sepeda dengan kualitas lebih bagus. Selama ini dia mengendarai sepeda standar dengan merek trail Unior. Nah, untuk membeli sepeda yang bagus, ayahnya mewajibkan dia menabung Rp 1.000–Rp 2.000 per hari. ”Oleh Ayah disuruh nabung dulu, nanti ditambahin,” ungkapnya.

Sementara Wahyu Nugroho, ayah Rahma Alya, mengungkapkan, awalnya dia memang mencari olahraga apa yang positif untuk putrinya. Apalagi melihat pergaulan zaman sekarang yang seperti ini. Selama satu bulan sengaja diajak melihat orang-orang latihan di Velodrome Sawojajar. Tujuannya untuk memancing minat anaknya. ”Kebetulan waktu itu ada yang meminjamkan sepedanya untuk dipakai,” ungkapnya.

Dia mengaku beruntung karena putrinya pintar mengatur waktu. Sehingga meski olahraga ini melelahkan dan sering keluar kota untuk mengikuti lomba, tapi tidak berpengaruh ke kegiatan belajar mengajar (KBM). ”Jadi, dia tetap aktif seperti siswa pada umumnya,” imbuhnya.

Laki-laki yang selalu menemani putrinya dalam setiap perlombaan itu juga menyampaikan, dirinya pernah ada di masa-masa sulit dalam mengarahkan anaknya ke kesibukan yang positif itu. Dia tidak pernah memaksa. Namun, mengenalkan olahraga balap sepeda pelan-pelan. ”Kebetulan saya melihat dia tidak gampang menyerah dan mau mengejar target sehingga sepertinya dia berpotensi,” ungkapnya.

Saat membelikan sepeda untuk putrinya, memang dia mengarahkan anak pertamanya itu untuk menabung. Ini sebagai bentuk pembelajaran, sebenarnya hal itu tidak berorientasi pada hasil, yang penting mengajarkan untuk ada usaha jika menginginkan sesuatu. ”Berapa pun hasilnya nanti kami orang tuanya yang menambahi,” ungkapnya.

Dia berharap, putrinya itu bisa fokus terus ke balap sepeda. ”Saya takutnya menginjak ke jenjang sekolah yang lebih tinggi hobinya mulai terkikis, takut dia bosan,” tandas dia.

Pewarta : *
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib