Serapan KUR Pertanian Masih Rendah

Kemudahan akses permodalan perbankan bagi para petani hingga kini masih belum optimal. Hal itu terlihat dari sedikitnya jumlah petani yang sudah menikmati KUR (kredit usaha rakyat). Seperti realisasi KUR yang dikucurkan PT BNI Tbk Wilayah Malang yang baru diakses sekitar 4 ribu orang dari target sebanyak 677 ribu petani di tahun 2017.

MALANG KOTA – Kemudahan akses permodalan perbankan bagi para petani hingga kini masih belum optimal. Hal itu terlihat dari sedikitnya jumlah petani yang sudah menikmati KUR (kredit usaha rakyat). Seperti realisasi KUR yang dikucurkan PT BNI Tbk Wilayah Malang yang baru diakses sekitar 4 ribu orang dari target sebanyak 677 ribu petani di tahun 2017.

Kerja sama BNI Malang dengan Kemenpan (Kementerian Pertanian) pada tahun ini diharapkan bisa menyediakan akses kartu tani dan KUR bagi 677 ribu petani. Namun, hingga penghujung 2017 ini, baru sekitar 200 ribu orang yang diproses untuk menerima kartu tani. ”Hingga saat ini, dari 200 ribuan petani pemegang kartu tani, yang mengaktivasi kartu dan memanfaatkan KUR untuk pertanian mereka baru 4.000-an petani,” ujar CEO BNI Wilayah Malang Yessy Kurnia di acara Media Gathering dan Workshop Akhir Tahun BNI Wilayah Malang di Hotel Aria Rabu lalu (27/12).

Yessy menyatakan, dia menyayangkan kecilnya jumlah petani yang memanfaatkan fasilitas KUR. Padahal, selain bunganya rendah, persyaratan yang harus dipenuhi juga tidak sulit. ”Bunganya Rp 7.500 per bulan untuk pinjaman sebesar Rp 1 juta. Itu termasuk murah,” ujarnya.

Yessy juga menyatakan, pihaknya dan dinas pertanian saling bahu-membahu untuk meningkatkan jumlah petani pemegang kartu tani. ”Data RDKK (rencana definitif kebutuhan kelompok) harus dibetulkan dulu dan lahannya harus dipastikan lagi. Sebab, di beberapa tempat, data tersebut tidak update sehingga pendistribusian tidak optimal,” katanya.

Dia menambahkan, sebagian data-data yang ada masih copy paste data tahun sebelumnya. Jadi, saat divalidasi ada beberapa petani yang sudah meninggal, pindah, maupun menjadi TKI.

Kendala pendistribusian kartu tani juga disebabkan kurangnya sosialisasi bahwa ada produk perbankan yang murah. ”Harus menjalin kerja sama dengan dinas, gapoktan, dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di daerah itu,” lanjut Yessy.

Dia menjelaskan, KUR yang diberikan untuk petani hanya untuk pemegang kartu tani yang menanam tiga komoditas tanaman, yakni pajale (padi, jagung, dan kedelai). Pembiayaan yang dikucurkan bergantung pada komoditas yang ditanam. Jadi, satu petani bisa mendapatkan dana KUR yang berbeda dari petani lainnya.

Rata-rata pembiayaan yang dibutuhkan petani untuk tanaman ketiga komoditas itu sekitar Rp 6 juta per hektare sehingga bunga yang wajib dibayarkan petani cukup Rp 45 ribu per hektare per bulan. ”Jumlah itu saya kira masih terjangkau bagi petani kecil,” katanya.

Pewarta : nr8
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Dwi Lindawati