Serapan Beras di Bulog Masih Rendah

MALANG KOTA – Tingkat serapan beras dari Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Divre) Malang terbilang rendah. Karena dari target 21 ribu ton setahun, per Mei lalu baru 11 persennya atau 2.300 ton yang terserap. Ini artinya, konsumsi masyarakat terhadap beras dari Bulog minim.

Wakil Kepala Bulog Sub Divre Malang Eko Yudi Miranto menyebut, penyerapan sudah dilakukan sejak awal Februari lalu. Namun, hingga Mei proses penyerapannya sangat lambat. ”Sampai dengan awal Mei, kami sudah menyerap sekitar 2.300 ton dari target satu tahun 21 ribu ton, jadi sekitar 11 persen,” ujarnya.

Dia menyatakan, angka serapan tersebut justru lebih rendah dari tahun lalu pada periode yang sama. Pada 2018, Bulog Malang juga tidak mencapai 100 persen target serapan. ”Pada 2018 lalu dengan target 42 ribu ton, kami mendapatkan sekitar 18 ribu ton atau 40 persen,” sebutnya.

Menurut dia, terdapat sejumlah kendala yang ditemui dalam pemenuhan target tersebut. Seperti temuan di lapangan terkait Bantuan Pangan Nontunai (BPNT). ”Kendalanya itu, ya harus bersaing dengan penggilingan untuk menyuplai Bantuan Pangan Nontunai (BNPT). Kan (dalam program tersebut) supplier dibebaskan, tidak harus dari Bulog,” paparnya.

Meski demikian, Eko Yudi optimistis serapan pada 2019 ini akan membaik. Karena Bulog sendiri punya strategi jitu dengan memberlakukan harga yang relatif bersaing dibandingkan dengan pengepul. ”Kalau ketentuan harga kan tetap dari pemerintah, yakni sebesar Rp 8.030 dan itu belum ada perubahan. Tapi itu di atas harga pokok penjualan (HPP),” tambahnya.

Sementara, jumlah pasokan beras sebesar 26 ribu ton produksi dalam negeri (DN) ini diprediksi bisa mencukupi kebutuhan hingga 12 bulan mendatang. Beras tersebut didistribusikan di wilayah kerja yang meliputi Kota dan Kabupaten Malang, Kota Batu, serta Kota dan Kabupaten Pasuruan.

Selain menyimpan cadangan beras produksi DN, di gudang pun juga masih memiliki stok beras impor. Beras luar negeri (LN) sebanyak 8 ribu ton tersebut saat ini disimpan di gudang Bulog Gadang, Kota Malang. Beras tersebut, hasil pengadaan impor pada 2018 lalu.

Meski demikian, Yudi menyebut bahwa beras yang disalurkan di wilayah Jawa Timur merupakan beras DN. ”Beras luar negeri tidak untuk disalurkan di Jawa Timur. Kami hanya menjadi tempat transit saja,” ujarnya.

Yudi menyatakan, penyaluran beras impor tersebut menunggu keputusan dari pemerintah pusat. Beras tersebut baru akan dikirim jika terjadi kelangkaan di wilayah luar Jawa Timur. ”Kalau sudah ada perintah, kami siap mengirim ke wilayah yang defisit seperti di wilayah timur seperti NTT, Papua, Maluku,” singkatnya. Sementara, beras yang diimpor dari beberapa negara seperti Pakistan, India, Vietnam, dan Thailand diperkirakan masih bisa bertahan hingga lebih dari 6 bulan.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib