September, 11 Minibus Sekolah Siap Angkut Siswa

Adanya penambahan 11 minibus itu bakal melengkapi keberadaan 6 bus yang telah beroperasi sejak akhir 2014 lalu. Rinciannya, ada 9 minibus yang menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), sedangkan dua sisanya dari corporate social responsibility (CSR). Pemkot Malang telah memberi jatah anggaran Rp 4,1 miliar untuk pengadaan itu.

”Lelangnya sudah selesai. Dari pagu anggaran Rp 4,1 miliar, nilai penawaran terendahnya Rp 3,8 miliar. Jadi, ada penghematan sekitar Rp 300 juta,” ujar Kepala Bagian Layanan Barang dan Jasa Pemkot Malang Widjaja Saleh Putra.

Lelang tersebut diikuti tujuh peserta dan dimenangkan oleh PT Gatra Perdana Putra. Selain memberikan penawaran terendah, rata-rata perusahaan lain tidak lolos verifikasi administrasi. Misalnya, kualifikasi perusahaan tidak sesuai maupun spesifikasi teknis yang ditawarkan tidak lengkap. ”Meski sudah selesai, tidak langsung ada barangnya. Sebab, ada masa pengerjaan, lamanya tiga bulan,” terang Jaya, sapaan akrab Widjaja Saleh Putra.

Karena masuk paket konstruksi, pemkot tak sekadar membeli minibus. Melainkan perlu perakitan sesuai kebutuhan dan spesifikasi yang telah dirancang. Dia membeberkan, minibus yang diharapkan itu seperti elf dengan kapasitas standar 18 orang. Kemudian, minibus tersebut dilengkapi dengan pintu otomatis. ”Karena lelang selesai Juni, maka paling tidak September sudah selesai dan bisa mulai operasional,” terangnya.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Zubaidah. Awalnya, minibus tersebut ditargetkan bisa mulai beroperasi Juli ini saat tahun ajaran baru dimulai. ”Kemarin, ada beberapa perusahaan yang tidak bisa menyediakan alat buka-tutup pintu otomatis. Tapi karena saat ini sudah selesai lelang, maka ya dalam waktu dekat sudah bisa digunakan,” ujar Ida, sapaan akrab Zubaidah.

Tujuan dari alat otomatis itu bukan untuk sekadar tren. Namun, menurut Ida, upaya itu dapat meminimalkan anggaran jangka panjang. Jika tanpa pintu otomatis, dibutuhkan satu sopir dan satu kernet untuk masing-masing minibus. Sementara itu, dengan pintu otomatis, hanya dibutuhkan sopir. ”Jadi, jangka panjang bisa hemat anggaran untuk gaji kondektur,” imbuh perempuan kelahiran 13 Desember 1960 itu.

Dia menambahkan, rencananya ada lima titik sekolah yang menjadi titik awal dan akhir minibus. Yakni, SMPN 27 di Lesanpuro, SMPN 22 di Buring, SMPN 15 di Pisang Candi, SMPN 17 di Bakalankrajan, dan SMPN 14 di Pandanwangi. Rencananya, masing-masing titik akan dilalui dua minibus. Baik minibus yang menuju sekolah maupun dari arah sekolah. ”Nanti yang ke SMPN 14 juga langsung ke SMPN 24 yang juga di Kelurahan Pandanwangi. Akan ada tiga minibus yang di sana,” tutur Ida.

Namun, hingga saat ini, Ida mengaku, pihaknya belum menentukan rute yang bakal dilalui minibus. Sebab, masih perlu koordinasi dengan instansi-instansi terkait, misalnya dinas perhubungan hingga pihak sekolah. ”Rutenya menyusul karena nanti juga dilihat titik-titik kumpulnya, potensi siswanya, dan lain-lain,” ungkapnya.

Dia pun menjelaskan, program pengadaan angkutan baru bagi siswa ini didasari banyaknya keluhan dari siswa maupun wali murid. Sebab, kawasan di pinggiran kota tidak dilewati angkutan umum maupun bus sekolah. ”Kapasitas minibus ini nantinya hanya sekitar 18 orang. Berbeda dengan bus sekolah yang bisa memuat siswa lebih banyak,” pungkasnya.

Pewarta: Nurlayla Ratri
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Indah Setyowati