Sepi Pesanan, Produksi Gamelan Tetap Bertahan

Kian sulit mencari perajin gong dan gamelan di zaman sekarang. Suwanto adalah salah satu di antara segelintir perajin yang hingga kini masih setia menekuni usaha pembuatan gamelan. Kegiatan usaha yang ditekuni di Jalan Pande No 23, Dusun Junwatu, Desa/Kecamatan Junrejo, Kota Batu, ini pun dijadikan jujukan. Tidak hanya warga Kota Batu, tapi juga warga Malang Raya dan sekitarnya.

KOTA  BATU – Kian sulit mencari perajin gong dan gamelan di zaman sekarang. Suwanto adalah salah satu di antara segelintir perajin yang hingga kini masih setia menekuni usaha pembuatan gamelan. Kegiatan usaha yang ditekuni di Jalan Pande No 23, Dusun Junwatu, Desa/Kecamatan Junrejo, Kota Batu, ini pun dijadikan jujukan. Tidak hanya warga Kota Batu, tapi juga warga Malang Raya dan sekitarnya.

Meski saat ini pemesanan pembuatan gong terhitung sepi, tapi masih saja ada yang memesan. ”Pemesan gong tetap ada. Menurun (jumlah pemesan, Red) pasti iya, tapi ini tetap kami teruskan,” ungkap Suwanto kemarin.

Dalam sebulan, dia menyatakan, rata-rata ada pemesanan 4–5 gong atau instrumen gamelan lainnya. Seperti demung, kenong, bonang, saron, dan peking. ”Tidak pasti, kadang ya ada yang pesan kadang ya tidak,” ujarnya.

Menurut dia, usaha itu dilakoni karena untuk menjaga yang sudah diwariskan ayahnya, Munaji. ”Saya baru aktif tahun 2014, dulu hanya membantu,” kata dia.

Bagi dia, meneruskan membuat gong yang sudah dimulai dari ayahnya dulu sangat penting. Tidak hanya menjaga tradisi yang sudah diwariskan, tapi juga melestarikan budaya yang kini semakin terlupakan.



Disinggung soal pemesan, Suwanto menyatakan, para pemesan adalah pelaku seni. ”Ada pemesan dari luar Batu yang banyak, Malang Raya, dan lain-lainnya,” jelas dia. Dari Batu sendiri, menurut dia, selama ini sangat jarang. Termasuk pesanan dari instansi pemerintahan, pendidikan, dan lain-lainnya. ”Pemerintah sini itu pesannya ke Jawa Tengah, baru kalau nanti servis ke sini. Di Jawa Tengah, harga gong lebih murah,” kata dia. Selama ini, Suwanto dan keluarganya juga mandiri.

Meski sebagai salah satu pembuat gong di Batu, tapi tidak pernah ada uluran dari Pemerintah Kota Batu, baik dalam peralatan maupun pemasaran. ”Tidak pernah mendapatkan bantuan, kalau mengajukan pernah tapi hingga saat ini juga tidak dapat. Ya, padahal di sini adalah kota wisata, tapi tetap saja kami berusaha menjual sendiri,” tandas Suwanto. Satu set gong yang dia buat, harganya kisaran Rp 90 juta hingga Rp 100 juta. Selain membuat gong, Suwanto juga membuat dan menerima servis alat pertanian.

Pewarta : Aris Dwi
Penyunting : Ahmad Yahya
Copy Editor : Dwi Lindawati
Foto : Bayu Eka