Sepi, Hanya 32 Persen Extra Flight Terealisasi dari Bandara Juanda

JawaPos.com – Realisasi penerbangan tambahan alias extra flight di Bandara Internasional Juanda meleset jauh dari total yang sudah diajukan. Dari 600 penerbangan tambahan yang diajukan selama H-7 hingga H+7 Lebaran, yang terealisasi hanya 32 persen. Banyak pesawat yang batal terbang dan akhirnya slot yang diberikan sia-sia.

Padahal, tidak mudah memperoleh slot tersebut. Banyak maskapai yang rela antre demi mendapatkan slot itu. Hampir setiap hari ada saja pesawat yang batal terbang. Alasannya pun beragam. Yang paling banyak gara-gara jumlah penumpang tidak memenuhi target. Akhirnya penumpang digabungkan di slot penerbangan lain dengan tujuan yang sama.

Dalam setahun, biasanya terdapat dua kali masa banyak maskapai yang mengajukan extra flight. Yakni, menjelang libur Lebaran serta libur Natal dan tahun baru.

Sementara itu, dari segi jumlah pengajuan, yang paling banyak saat libur Lebaran. Sebab, durasi waktu yang diberikan cukup panjang. Yakni, selama 13 hari, mulai H-7 hingga H+7 General Manager AP I Juanda Heru Prasetyo mengatakan, total penerbangan tambahan yang terealisasi tahun ini cukup anjlok. Yang terealisasi hanya 189 di antara 600 permintaan. Jauh di bawah separonya. Padahal, setiap pengajuan tersebut sudah mendapat slot masing-masing. Adanya beberapa slot yang dibatalkan otomatis berdampak pada penerbangan lain.

Posko Lebaran Bandara Juanda mencatat, terdapat 2.582 penerbangan yang ter-cancel tahun ini. Perinciannya, 1.290 penerbangan kedatangan dan 1.292 penerbangan keberangkatan. “Hal ini wajar karena jumlah penumpang juga turun. Akibatnya, banyak maskapai yang tidak mau rugi sehingga menggabung penerbangan jadi satu,” katanya.

Saat ini rata-rata slot penerbangan di bandara mencapai 34 penerbangan setiap jam. Jumlah tersebut tergolong padat. Untuk mendapatkan satu slot, pengelola bandara dan otban harus menata ulang slot yang sudah ada. Butuh waktu dan banyak pertimbangan. Karena itu, pengelola bandara sangat menyayangkan pembatalan penerbangan maskapai yang sudah memperoleh slot.

Sebenarnya permasalahan serupa memang terjadi setiap tahun. Bahkan, tahun lalu pengajuan extra flight jauh lebih banyak. Yakni, mencapai 1.598 penerbangan. Namun, lagi-lagi yang terealisasi hanya sedikit. Yaitu, 263 penerbangan.

Untuk itu, AP I akan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait permasalahan tersebut. Sebab, adanya pengajuan dan pembatalan itu sangat berdampak pada lalu lintas pesawat. Ujung-ujungnya, yang dirugikan adalah penumpang sebagai pengguna jasa penerbangan. “Kami akan meminta maskapai lebih mempertimbangkan secara matang sebelum mengajukan extra flight,” imbuh Heru.