Sepakat, Tidak Ada Ruang untuk Teror dan Anarkis

BANDUNG – Persiapan Arema FC sebelum melawan Persib Bandung di Stadion Si Jalak Harupat sore ini (12/11) bisa dibilang berbeda dari biasanya.

Jika pada laga away biasanya Makan Konate dkk sudah berada di kota tuan rumah sejak H-2 atau H-3 pertandingan. Kali ini Arema FC hijrah ke Bandung baru kemarin (11/11) atau H-1 pertandingan.

Penggawa Singo Edan juga melewatkan official training (OT) di venue pertandingan. Hotel yang dipilih sebagai tempat menginap pun cukup jauh dari Stadion Si Jalak Harupat, yakni sekitar 23 kilometer.

Plus ada pengamanan superketat di tempat menginap Johan Alfarizie dkk. Dari pantauan koran ini, sampai kemarin sore ada sekitar 20 polisi yang berjaga.

Dan nantinya menuju stadion, penggawa Arema bakal menggunakan kendaraan taktis (rantis). Semua ini dilakukan bukan tanpa alasan.

Manajemen Arema FC ingin mengantisipasi ”teror” pendukung lawan. Seperti diketahui, Bobotoh ataupun Viking–pendukung Persib, selama ini punya hubungan yang kurang harmonis dengan Aremania.

Apalagi pada putaran pertama lalu saat bermain di Stadion Kanjuruhan, Arema menang 5-1 atas Persib. Hasil tersebut bisa jadi bakal lebih menyulut emosi para pendukung Maung Bandung–julukan Persib– dan ”melampiaskan” pada laga hari ini. Namun, semua tim pelatih satu suara. Berharap, tidak ada teror yang sampai merugikan pemain.

”Kasihan para pemain kalau terkena teror. Mereka itu tidak tahu apa-apa,” ungkap asisten pelatih Arema FC Kuncoro. Dia melanjutkan, kalau masalahnya antarsuporter sebaiknya diselesaikan dengan suporter.

Jangan sampai malah merugikan yang di pertandingan. Bagi Kuncoro, akan lebih baik kalau keduanya kelompok suporter bisa saling merangkul.

Toh, sebetulnya baik Aremania dan Bobotoh sebelumnya juga tidak punya riwayat permusuhan. Mereka, jelas dia, juga sama-sama sebagai warga negara yang berada di bawah bendera yang sama yakni Merah Putih. ”Rivalitas itu hanya 90 menit. Setelahnya kita sama-sama saudara,” ungkap Kuncoro.

Pesan perdamaian disampaikan juga pelatih Persib Bandung Robert Rene Alberts. Dia berharap, pertandingan nanti berjalan dengan lancar tanpa ada gesekan atau kericuhan.

”Tidak boleh ada tempat untuk rasisme dan holiganisme,” ucap pelatih berkebangsaan Belanda itu. Robert ingin para suporter Persib menyambut baik semua yang datang di Kota Kembang itu.

Sebab, menurut mantan pelatih Arema ini, semua orang yang terlibat sepak bola harus bisa bersikap baik. Menghargai, meski berbeda warna kulit, tim, dan budaya.

”Harus bisa fair play dan menghormati satu sama lain di sepak bola,” ucap dia. Dengan hal itu, Robert yakin segala bentuk hal negatif di olahraga ini bisa dihilangkan.

Pewarta : Gp
Copy Editor : Dc2
Penyunting : Aris Dwi Kuncoro