Senja Kala Anyaman Bambu dari Turen

TUREN – Perajin-perajin tradisional mulai merasakan dampak melejitnya perkembangan teknologi. Seperti dirasakan perajin anyaman bambu dari Dusun Kampung Anyar, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen. Sejak tiga tahun terakhir, mereka mengaku pesanan untuk hasil kerajinan tangan dari bahan bambu makin berkurang.

”Saat ini sudah jarang membuat, Mas,” kata Satura, salah satu perajin anyaman bambu di sana.

Karena sepi, produksi yang mereka hasilkan tak sebanyak dulu. Kini, dalam satu hari mereka hanya membuat 2–3 anyaman. Berbeda dengan dulu yang setiap hari bisa menghasilkan belasan anyaman bambu. Mulai dari berbentuk tampah hingga berbagai wadah makanan.

”Itu pun membuatnya juga bergantung pesanan dan tidak setiap hari,” tambah perempuan berusia 40 tahun tersebut. Dia mengakui hanya sebagian orang di dusunnya yang bisa membuat anyaman bambu.

”Yang biasa membuat hanya ada di RT 23,” imbuhnya. Karena kini sepi peminat, tambahan pendapatan pun sulit dia peroleh.

Saat ramai, sehari dia bisa menghasilkan pendapatan puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Itu hasil dari penjualan berbagai jenis anyaman bamboo yang rata-rata dijual seharga Rp 10 ribu.

”Hasilnya dijual ke pengepul dulu, baru dipasarkan ke beberapa daerah,” kata Satura. Dulu, hasil anyaman bambu dari sana bisa menjangkau berbagai daerah di Jawa Timur. Kini hanya bisa menjangkau beberapa wilayah di Malang Raya.

Pewarta: Ali Afifi
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto