MALANG KOTA – Ketakutan, kebencian, bahagia, dan isu lingkungan tersusun rapi di dalam ruangan berukuran 6×6 meter di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM). Perasaan manusia ini terbentuk dalam karya 94 seniman profesional yang dipamerkan dalam acara Mini Art Malang (MAM) mulai kemarin (22/9) hingga Selasa (2/10).

Akhmadi Budi Santoso, sang kurator, menyatakan, Mini Art Malang berbeda dari pameran seni pada umumnya. Sesuai namanya, mini art yang berarti seni berukuran mungil. ”Kami menyebut istilah mini art itu karya yang bisa dijinjing,” kata Leck, panggilan Akhmadi Budi Santoso, kemarin.

Lebih rinci, istilah karya jinjing adalah karya seni yang dibuat para seniman ketika mereka bepergian atau ketika di luar studio. Ukuran karya jinjing ini sekitar 50×50 cm. ”Jinjing artinya kan dibawa ke mana-mana. Konsep ini yang ditawarkan ke para seniman,” imbuhnya. Sehingga, selama pameran berlangsung, tidak ada karya seni yang terlihat besar atau terlihat dominan.

Tema yang diusung adalah exploring atau kebebasan. Maka, setiap seniman bebas menentukan karya mereka mau dibentuk seperti apa dan dengan media apa saja. Misalnya karya Agus Cilik bernama The Empire. Instalasi seni ini sangat unik. Ada susunan kabel dan beberapa baut besi yang disusun jadi satu. Makna dari instalasi seni besi ini menunjukkan sebuah barang rongsokan yang bisa disulap menjadi mewah dan berkelas. ”Sama seperti kisah kerajaan masa lalu yang dibangun oleh orang  biasa. Seperti itu konsepnya,” jelas pria berkacamata ini. (san/c1/riq)