Sendi, Tempat Mendinginkan Mesin

Cerita Minggu

Sendi, Tempat Mendinginkan Mesin

Kalau melaju dari Batu menuju Pacet melalui jalur Cangar, Anda bakal menemukan banyak tanda peringatan untuk beristirahat dulu di Sendi. Agar mesin tak sampai kepanasan. Agar rem tak sampai blong.

Sendi adalah desa adat yang berada di tengah jalur alternatif Cangar. Ada banyak warung di sana yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Nasi jagung hangat siap menyambut tamu yang ingin menikmatinya.



Nikmat sekali disantap di tengah suasana sejuk cenderung dingin di sana. “Ya begini memang kondisi desa adat, tentrem dan nyaman,” ujar Ketua Desa Adat Sendi Supardi kemarin.

Pria 60 tahun itu mengungkapkan, masyarakat Sendi memang berpenghasilan sebagai petani dan wiraswasta warung. “Warga desa ini senang kalau banyak pengunjung. Selain memberikan penghasilan, bisa nambah saudara,” kata Supardi, lantas tertawa.

Rumah-rumah panggung yang jadi warung itu memang milik warga Sendi. Mereka membuatnya berdasar adat. Tidak boleh dijual atau disewakan. Setiap warung tersebut memang diperuntukkan bagi warga asli Sendi.

Supardi mencontohkan, dirinya mengakui bahwa tahun lalu hukuman adat di sini berlaku. Waktu itu ada hubungan zina di antara warga Sendi sendiri. Setelah ada laporan, mereka dibawa ke pemangku adat dan diadili. Setelah itu mereka mendapatkan sanksi, yakni hukuman membersihkan seluruh jalan raya di kompleks Sendi.

Jumain, salah seorang warga, mengatakan, tiap-tiap warung sudah memiliki ciri khas. “Seneng ae Mas, nang kene isok dodolan sego jagung (senang saja Mas, di sini bisa berjualan nasi jagung, Red). Setiap pagi pasti ada yang beli,” ucapnya.

Jumain mengungkapkan, pendapatannya meningkat apabila hari libur. Sekitar Rp 250 ribu bisa dapat. Tapi, kalau hari biasa, Rp 150 ribu saja sudah bersyukur. “Lumayan untuk diputar lagi,” ujar warga yang sudah 20 tahun menempati warung di Sendi itu. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (den/c9/ttg)