Semua Santri Jalani Salat Witir Tiap Pukul 02.30

Santri Ponpes Nurul Ulum usai menjalani salat Witir kemarin (6/6) pukul 03.00.

Di Ponpes Nurul Ulum, Kelurahan Kebonsari, Sukun, menjalani salat Witir tidak hanya saat bulan Ramadan. Tapi, aktivitas ini dijalani setiap hari sejak pondok tersebut berdiri pada 1967 silam. Ini juga merupakan program riyadhoh (gemblengan batin dan spiritual).

Suasana di pintu masuk Ponpes Nurul Ulum tampak sunyi saat Jawa Pos Radar Malang datang kemarin dini hari (6/6) pukul 02.30. Dari luar seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sepi sekali. Namun begitu masuk ke kompleks pesantren, lantunan indah ayat-ayat suci Alquran terdengar nyaring.

Suara itu berasal dari Dimas Maulana Halim, salah satu santri. Suaranya saat membacakan surat Al Falaq mampu memecah keheningan pagi itu. Surat tersebut dibaca saat salat Witir dini hari.

Kebetulan, saat itu Dimas Maulana Halim yang ditunjuk sebagai imam salat Witir.

”Sudah dua kali ini saya dapat tugas (jadi imam). Semua santri akan dapat jatah (jadi imam). Sebab, kegiatan tersebut wajib bagi santri tiap hari,” kata santri kelahiran Kepanjen, Kabupaten Malang, tersebut setelah salat Witir Selasa dini hari.

Menurutnya, semua santri memang diwajibkan mengikuti salat Witir dan Duha (tiap pukul 06.00). Santri yang duduk di kelas VIII MTs Nurul Ulum ini mengaku, awalnya aktivitas salat Witir pada dini hari itu cukup berat. Sebab, sebelum nyantri di ponpes tersebut, dia belum terbiasa bangun tengah malam.

”Tapi, lama-lama ya enteng (nggak berat menjalankan),” terang Dimas.

Hal senada juga disampaikan Mustajib Amin, santri lainnya. Menurut dia, salat Witir dan zikir membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Lalu dilanjutkan dengan tadarus Alquran hingga salat Subuh tiba.

Namun, santri asal Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, ini mengaku butuh waktu sekitar 1 minggu untuk adaptasi dengan kegiatan tersebut karena sebelumnya jarang melakukannya.

”Sekarang sudah biasa juga (ikut kegiatan pesantren). Karena ini (manfaatnya) juga untuk kami nantinya,” terang santri yang juga kelas VIII MTs Nurul Ulum ini.

Sementara Athoriq Nofariansah, salah satu ustad di Ponpes Nurul Ulum, menjelaskan, kebiasaan salat Witir dini hari itu sudah berlangsung sejak 50 tahun silam. Tepatnya sejak 1967. Ritual riyadhoh ini merupakan ”warisan” dari pendiri Ponpes Nurul Ulum, (alm) KH Muhammad Syifa’ dan (almarhumah) ibu Nyai Rohmah Nur.

Kala itu beliau berdua setiap dini hari juga mengajak warga sekitar pesantren untuk salat Witir. Usai salat Witir dilanjutkan dengan berzikir dan membaca Alquran sembari menunggu salat Subuh.

”Tujuannya agar lebih dekat dengan sang pencipta (Allah) dan dimudahkan dalam semua urusan,” kata pria kelahiran 14 November 1998 tersebut kemarin.

Tak hanya itu, di ponpes juga ada kegiatan rutin lainnya. Yaitu zikir khusus ibu-ibu dari kalangan masyarakat umum setiap Kamis pagi usai salat Subuh. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh ibu Nyai Kholifatuzzahro.

”Semua jamaah zikirnya dari kalangan ibu-ibu. Yang mimpin ibu nyai sendiri (ibu Nyai Kholifatuzzahro),” terang alumnus MA Nurul Ulum ini.

Selain itu, juga ada kegiatan pembacaan surat Yasin, dilanjut pengajian untuk umum, baik untuk jamaah putri maupun putra. Tempatnya di halaman Ponpes Nurul Ulum. Yang memimpin kegiatan ini langsung para kiai ponpes setiap Jumat pagi. Jamaah pengajian mencapai ribuan orang.

”Yang pengajian umum ini setiap Jumat setelah salat Subuh,” tambah Ahmad Fausi Resa Pahlevi, pengurus harian Ponpes Nurul Ulum.

Pewarta: Imam Nasrodin
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Imam Nasrodin