Sempat Terlambat Masuk Ruangan, Tak Percaya Bisa Jadi Juara

Perjuangan Nailah Mutiara Tripandra untuk bisa menjuarai olimpiade IPS tingkat Jawa Timur memang tidak mudah. Dia harus belajar penuh selama tiga hari. Usahanya pun terbayar, dia berhasil mengharumkan nama sekolahnya setelah mengalahkan ratusan peserta dari berbagai sekolah.

Perjuangan Nailah Mutiara Tripandra untuk bisa menjuarai olimpiade IPS tingkat Jawa Timur memang tidak mudah. Dia harus belajar penuh selama tiga hari. Usahanya pun terbayar, dia berhasil mengharumkan nama sekolahnya setelah mengalahkan ratusan peserta dari berbagai sekolah.

Mimik bahagia tampak dari wajah Nailah Mutiara Tripandra saat ditemui Jawa Pos Radar Batu di sela-sela istirahat se­kolah Kamis lalu (1/3). Siswi kelas VIII Al Izzah International Islamic School, Kota Batu, itu langsung tersenyum sambil membawa piala. Beberapa te­man­nya yang ikut sesekali meng­godanya.

Nailah, sapaan akrabnya, sesekali juga tersipu malu. Saat dia mulai men­ceritakan tentang ke­berhasilan yang di­raihnya beberapa waktu lalu, Nailah mulai cair dan tak lagi malu-malu.

Nailah meraih juara 1 Olimpiade Ilmu Pelajaran Sosial (IPS) yang diadakan di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 3 Jombang 21 Februari lalu. Di olimpiade yang diikuti ratusan pelajar SMP dari kota dan kabupaten se-Jawa Timur itu, dia berhasil menjadi yang terbaik.

Tidak mudah Nailah men­dapatkan juara itu. Per­juangan keras dilakukan, meski persiapannya hanya tiga hari. ”Kalau persiapan pe­nuh selama tiga hari, saya tidak ikut pela­jaran. Hanya mem­bahas soal olim­piade,” kata dia.



Sebenarnya, akitivitas be­lajar­nya selama ini cukup padat. Dia belajar mulai pukul 07.00 sampai 14.30. Selain persiapan penuh di sekolah, kesuksesan Nailah tak lepas dari ke­ge­marannya terhadap IPS. Sejak duduk dibangku SMP, siswi kelahiran 17 April 2004 itu mengaku sudah menyenangi ilmu sosial. ”Saat SD saya senangnya Matematika. Dulu pengen jadi ilmuwan. Saya tidak senang dengan (pela­jaran) Sejarah,” kata dia.

Namun, saat kelas VII SMP di Al Izzah, Nailah mulai ter­tarik terhadap ilmu sosial. ”Jadi, di sini saya terus masuk kelas olimpiade dan diarahkan ke IPS,” katanya

Meski sudah diarahkan ke IPS, bukan berarti dia langsung senang pelajaran Sejarah. Malah, pelajaran Sejarah justru jadi kelemahannya. ”Ya, tapi kalau IPS yang lain seneng, seperti Geografi, lalu Sosiologi, itu saya senang sekali,” ung­kapnya sambil  tertawa.

Pelajaran-pe­lajaran tersebut sangat menye­nangkan bagi Nailah. Nah, dengan berbekal kesenangan itulah dia terus mendalami IPS. Di sela-sela jam sekolah yang padat dan tinggal di asrama, membagi waktu adalah hal yang harus dilakukan. ”Kalau bangun kan biasanya jam 2 dini hari, lalu persiapan (salat) Tahajud, Subuh, ada ngaji, baru sekolah. Pukul 20.00 belajar. Saya sebelum tidur selalu me-review pelajaran dari sekolah,” kata dia.

Kebiasaan itu mem­buatnya selalu siap jika diminta ikut serta dalam lomba akademik. Dalam perlombaan olimpiade yang dia menangkan Februari lalu misalnya. Saat itu, Al Izzah mengirimkan enam peserta, termasuk Nailah, setelah dilakukan seleksi di sekolah. Namun, hanya siswi yang akrab disapa Naimut ini yang berhasil meraih juara.

Di arena olimpiade, putri ketiga pasangan Indra Setiawan dan Patmawati itu sempat tidak percaya diri. ”Soalnya lawannya banyak. Terus ada peserta dari tuan rumah juga,” ungkapnya.

Nailah tidak membutuhkan waktu lama untuk menenangkan diri. ”Pokoknya saya bekerja keras, tawakal, karena membawa nama baik sekolah. Alhamdulillah bisa juara,” kata siswi yang bercita-cita ahli di salah satu bidang di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) itu.

Saat perlombaan, perjalan Nailah menuju tangga juara juga tak mulus. ”Babak penyisihan soalnya 60 pilihan ganda semua. Bisa saya kerjakan dan dapat yang terbaik waktu itu,” kata dia.

Di babak semifinal, soal-soal yang diberikan kepada peserta mulai variatif. ”Nomor 1 sampai 10 itu pilihan ganda, bisa saya kerjakan. Yang nomor 11 sampai 20 itu pilihan, namun lebih pada sebab-akibat untuk jawabannya,” kata Nailah.

Artinya, jawabannya semua benar. Hanya, harus berhubu­ngan dengan kalimat selanjutnya.

”Saya lemahnya di pemahaman sebab-akibat, karena tidak ada persiapan,” terang Nailah.

Meski susah, hasil yang dia raih masih memuaskan.

Setelah masuk final, ada jeda istirahat. Saat itu, dia bersama temannya menyempatkan makan-makan. Saat Nailah makan, ternyata ujian sudah dimulai. ”Ya terlambat masuk. Yang lainnya sudah mau prepare mengerjakan soal,” kata dia.

Nailah berusaha menenangkan diri sebentar karena dia sempat panik.

Setelah semua proses dijalani, dia sempat tak percaya kalau dirinya dinobatkan menjadi yang terbaik. ”Saat itu disebutkan juaranya. Yang juara 3 itu namanya sama dengan saya, Nailah juga. Saya kira itu saya, tapi tidak. Saya pikir, waaah, tidak masuk (jadi juara, Red) ini,” kata dia.

Selanjutnya, saat disebutkan dua juara lain, nama Nailah Mutiara Tripandra justru disebut menjadi juara pertama. ”Seneng sekali, alhamdulillah bisa juara,” tutupnya.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Aris Syaiful
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono