Sempat Tercecer Urutan Enam, Nyaris Jadi Runner-Up

Memiliki keterbatasan mengatur gerak tubuh karena menderita cerebral palsy tak menjadi belenggu bagi Rosyidi

Memiliki keterbatasan mengatur gerak tubuh karena menderita cerebral palsy tak menjadi belenggu bagi Rosyidi. Bahkan, dia bisa mencetak berprestasi saat tampil di kejuaraan National Paralympic Competition se-Jawa Timur beberapa waktu lalu. Bagaimana dia bisa menjadi salah satu pemenang di kejuaraan lari 200 meter?

Juli lalu menjadi bulan yang bersejarah bagi Rosyidi. Siswa SMA LB (Luar Biasa) Pembina Nasional Bagian C di Kecamatan Lawang ini tampil sebagai juara 3 lomba lari 200 meter National Paralympic Competition se-Jawa Timur. Meski belum bisa tampil sebagai yang terbaik, latihan keras yang dijalani terbayar dengan prestasi menjadi tiga terbaik. Apalagi, event tersebut menjadi ajang kali pertama remaja dengan kelainan cerebral palcy itu mengikuti kejuaraan paralimpik resmi.

Bagi anak-anak normal, berlari tentu bukan hal yang sulit dilakukan. Namun, bagi Rosyid, sapaan akrab Rosyidi, untuk bisa berjalan saja butuh perjuangan ekstra. Sebab, penderita kelainan cerebral palsy mengalami kesulitan dalam mengontrol gerakan tubuhnya. Selain sulit berjalan, Rosyid juga mengalami kesulitan berbicara. Apalagi, tubuh bagian kiri pemuda kelahiran 30 September 1997 itu juga tidak bisa berfungsi normal sebagaimana mestinya.

Saat ditemui di sekolahnya, Rosyid tampak asyik bersenda gurau bersama teman-temannya. Saat diajak berbicang, Rosyid langsung bisa memahami pertanyaan yang dilontarkan koran ini. Namun, dia membutuhkan waktu untuk menyampaikan jawabannya. Rosyid yang kini duduk di kelas XI jurusan pertanian tak hanya belajar di bangku sekolah, pemuda 20 tahun ini juga intens berlatih lari yang memang menjadi salah satu hobinya.

Putra dari pasangan Hanan dan Wasiri ini ditunjuk mewakili Kabupaten Malang dalam lomba lari karena dianggap paling siap di antara rekan-rekannya yang lain. ”Karena suka berlari,” kata Rosyid saat ditanya mengapa dia memilih olahraga lari sebagai fokusnya.



Beberapa bulan sebelum kompetisi, Rosyid mengaku intens berlatih dengan didampingi oleh pelatih yang juga guru pendidikan jasmani di sekolahnya, yakni Wahyu Ariyanto. Setiap hari, mulai pukul 06.15 sampai 07.30, sulung dari dua bersaudara itu berlatih mulai dari keseimbangan sampai speed (kecepatan).

Sehari sebelum kompetisi yang digelar di Universitas Surabaya, Rosyidi berangkat bersama sang guru dengan menggunakan sepeda motor. Cuaca yang panas ditambah kepulan asap kendaraan tidak menjadi alasan buat menyerah. Meski sempat mengeluh kelelahan, keesokan harinya Rosyid siap berlaga di lintasan sepanjang 200 meter.

Berbeda dengan Rosyid yang percaya diri, pesimistis justru sempat menghantui pelatih Rosyid. ”Dengan kelainan yang sama, hanya Rosyid yang kondisi kakinya tidak normal, sedangkan yang lain hanya mengalami kelainan di bagian tangan, tidak ada kaitannya langsung dengan kelainan cerebral palsy,” ujar Wahyu.

Terbukti, pada jarak 100 meter pertama, dari tujuh peserta, Rosyid hanya bisa menempati posisi keenam. Melihat situasi tersebut, sang pelatih pun berusaha membangkitkan semangat Rosyid untuk terus memacu kecepatan berlarinya. ”Saya teriaki Rosyid untuk menambah speed dan dia mendengar. Pada 100 meter terakhir, dia mulai memacu kecepatan larinya,” ujar Wahyu.

Rosyid pun berhasil finis dengan jarak waktu yang sangat tipis dengan sang runner-up dari kontingen Surabaya. Akhirnya, lomba kategori sprint dengan jarak sejauh 200 meter berhasil ditempuh Rosyid dalam waktu 30 detik. ”Inginnya juara satu, tapi tidak apa-apa deh yang penting juara,” kata Rosyid.

Setelah ini, siswa yang dikenal ramah itu berkeinginan untuk mengikuti kompetisi lari di kesempatan yang lain. ”Ingin ikut lomba lagi supaya menang lagi,” tukasnya. (*/c3/nay)

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Ahmad Yani
Copy Editor: Indah Setyowati
Fotografer: Farik Fajarwati