Sempat Dianggap ”Gila”, Berbagi Ilmu ke Mahasiswa Malaysia

Kampung tematik tumbuh bak jamur di musim hujan. Tak hanya di Kota Malang, tapi juga di Kabupaten Malang. Salah satunya yang ngehit baru-baru ini adalah Kampung Es Krim. Rupanya, inisiator kampung ini adalah seorang lulusan STM atau setingkat SMK. Seperti apa ceritanya?

 

SUNANDAR

Nuansa Es Krim begitu terasa di Dusun Damean, RT 02, RW 03, Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Di kanan dan kirinya, ada banner dan tulisan di dinding kampung. Semua penuh tulisan dan warna-warni bertuliskan es krim.

Saat mengunjungi rumah Rohmad Basuki, di sepanjang gang banyak ditemui penjual es krim. Ada juga yang sedang membuat es krim. Di rumah Rohmad, aroma khas es krim begitu terasa. Kira-kira, seperti aroma kopi di kedai kopi. Menyengat dan nikmat.

Di rumah itu, ada peralatan pembuat es krim seperti mixer, freezer, dan wadah berbagai ukuran es krim. Mulai dari ukuran cup sampai tart. Ada pula tiga kaleng susu murni ukuran 10 liter di pojok ruang tamu berukuran 3×4 tersebut. Tak lama setelah menyambut koran ini, Rohmad langsung mengajak ke salah satu spot utama Kampung Es Krim. ”Mari ikut saya ke Jati Barong,” ucap pria asal Kediri ini.

Jati Barong adalah tempat semacam kafe outdoor yang berada di rerimbunan bambu. Luasnya sekitar 20×25 meter yang berada dekat sungai kecil dan banyak bambu. ”Barong kan artinya kumpulan bambu,” imbuh lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) Al Huda, Kediri, ini.

Dia bercerita, di awal membuat Kampung Es Krim pada Oktober 2017, dia sempat dianggap gila oleh tetangga sekitar. ”Kerabat dekat juga tidak ada yang mendukung. Malang kan dingin, mau buat Kampung Es Krim kan edan (gila, Red),” ucapnya.

Meski banyak yang tidak mendukung, suami Lualeli Rosita itu tetap yakin bahwa Kampung Es Krim akan booming. Gagasannya itu mulai dia tawarkan dalam acara bersih desa. Setelah itu, di berbagai event dia juga memperkenalkan Kampung Es Krim. ”Saya ikutkan bazar di Festival Lampion Singosari. Pokoknya, saya bilang dari Kampung Es Krim. Padahal, belum jadi kampungnya,” ucap pria berusia 42 tahun ini.

Tidak disangka respons masyarakat bagus setelah pameran itu. Pesanan es krim juga mulai berdatangan. ”Karena kewalahan memenuhi pesanan, saya minta bantuan warga membuat es krim. Dari sana warga mulai merespons positif,” imbuhnya.

Ditanya tentang keahlian membuat es krim, Rohmad menceritakan bahwa awalnya dia juga tidak bisa. ”Saya dulu kerja di marketing online, ketemu sama rekan yang punya formula es krim,” ucap lelaki kelahiran 5 Oktober 1976 tersebut.

Dari sanalah ilmu membuat es krim dia peroleh. Setelah bertemu dengan rekan dari Kota Surabaya itu, dia mencoba belajar membuat es krim untuk kali pertama dan kedua. Nah, untuk kali ketiga, akhirnya dia berhasil dengan mengombinasi resep es krim tersebut. ”Bahannya tanpa ada kimia. Susu murni. Kalau ada campuran air pasti tekstur esnya kasar,” imbuhnya.

Lalu, dia mulai mengajari dan mengajak ibu-ibu PKK di sekeliling rumahnya. Mulanya, hanya dua orang, kemudian menjadi lima orang dan saat ini sudah ada lima belas rumah produksi. ”Saat ini satu RW sudah rutin membuat es krim dan masuk di Kampung Es Krim,” tambahnya.

Es krim yang dijual pun bervariasi. Dari rasa sampai ukurannya. Untuk rasa, ada rasa cokelat, strawberry, nanas, vanila, durian, melon, green tea, blueberry, taro, dan tempe (kedelai). Untuk ukuran, mulai dari cup 100 ml dengan harga Rp 2.500, es krim kejepit (sandwich ice cream), es di mangkuk, es rujak dengan harga Rp 5.000, dan tart es krim mulai harga Rp 125.000–Rp 300.000.

Keahliannya di penjualan online, dia manfaatkan dengan mulai mengenalkan Kampung Es Krim ke berbagai event. Keaktifan sebagai YouTubers juga semakin membuat Kampung Es Krim menghiasi media sosial YouTube. ”Mudah dan hemat kalau promosi dengan media sosial itu. Cepat efeknya di masyarakat,” imbuhnya.

Berkat kegigihannya meyakinkan warga, dia berhasil membawa kampungnya juara I lomba Sinergitas Kerja Kecamatan Bidang Ekonomi Tingkat Kabupaten. Saat ini, kampung tersebut mewakili Kabupaten Malang di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Pada 20 November lalu, Kampung Es Krim mendapat kunjungan dari mahasiswa Universiti Sains Islam, Malaysia. Sekitar dua jam, rombongan ini belajar mengenai cara membuat es krim dan budaya khas Malangan. ”Bangga pastinya, lulusan STM ngajari membuat es krim mahasiswa Malaysia,” ucapnya.

Perputaran ekonomi dari Kampung Es Krim pun menjanjikan. Tercatat lebih dari Rp 2 juta dalam sehari untuk pesanan es krim. Di akhir pekan bahkan mencapai Rp 5 juta dengan kunjungan di atas 200 orang. Saat ini Kampung Es Krim hanya buka di hari Minggu. Hari lain digunakan untuk pelatihan dan memenuhi pesanan. Namun, ke depan dia memastikan akan buka setiap hari. ”Menunggu peresmian dari bupati, setelah itu buka setiap hari,” pungkasnya.

Pewarta: *
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Sunandar