Seminggu Jadi Stafsus Presiden, Belva Devara Bagi Cerita

ZETIZENID – Sudah lebih dari seminggu sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan wajah baru staf khususnya yang didominasi oleh generasi milenial. Dalam rentang waktu tersebut, Adamas Belva Syah Devara, salah satu stafsus Presiden Jokowi, berbagi cerita di Twitter lewat utas panjang berjudul “Catatan saya seminggu sejak ditunjuk menjadi Stafsus Presiden”.

Co-founder start up Ruang Guru tersebut mengupas awal mula dirinya menjadi stafsus, tugas-tugasnya, hingga strategi yang telah ia rencanakan. Tak dipungkiri, pria lulusan double degree Harvard dan Stanford itu mengaku kaget dan girang ketika ditawari posisi tersebut.

Oleh Presiden, stafsus milenial diharapkan dapat menyuntikkan ide kreatif dengan pikiran “digital”, bukan lagi “analog”. Belva juga mengungkapkan bahwa ide-ide tersebut tak akan bisa terealisasi jika para ‘pengide’ tak diformalkan menjadi staf. “Karena butuh koordinasi menyeluruh, termasuk berpartisipasi dalam meeting dengan kementerian/lembaga,” jelasnya.

Tawaran tersebut juga disertai dengan pesan bahwa jajaran anak muda ini tak perlu meninggalkan “akar”-nya dan tak perlu terlarut dalam birokrasi pemerintahan. Hal tersebut dimaksudkan agar mereka dapat tetap relevan dengan realita lapangan, serta peka dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya ingat arahan Presiden sebelum kami diumumkan Kamis lalu. Bapak Presiden berkata: ‘Nanti tolong bilang ke saya, oh Pak ini jadul sekali. Gapapa. Bilang ke saya, supaya bisa diperbaiki. Ini kesempatan kalian mengerti pemerintahan,’” tukas Belva mengutip arahan bos barunya itu.

Keseriusan Presiden Jokowi untuk mendengar aspirasi anak muda dan memberi ruang mereka untuk berkontribusi membangun negara jadi alasan kuat Belva menerima tawaran itu. Ia juga curhat bahwa dirinya saat ini tengah mempersiapkan tim yang kuat, kreatif, dan ‘berjiwa’ digital.

Bekal pengalaman membangun Ruang Guru membuat Belva dipercaya untuk menangani sektor Digital Delivery of Public Services, Kewirausahaan/UMKM, dan Kepemudaan. Ia pun sedikit membocorkan strateginya. “Rencananya saya jg akan menggabungkan prinsip UX/Human Centered Design (yang sudah biasa diterapkan di startup) dengan kebijakan publik.” Tentunya konsep digitalisasi dan integrasi rekaman data lintas sektor yang menjadi keahliannya tak luput dalam strategi tersebut.

Di akhir utas, Belva kembali menegaskan posisinya sebagai pengabdi negara tak ada sangkut pautnya dengan politik. “Perlu digarisbawahi juga bahwa saya bukan politisi, saya bergabung untuk menjadi pekerja. Kontribusi sebisa saya, itu fokus saya,” tukasnya.

Rekan Iman Usman ini tak sendiri dalam jajaran stafsus milenial. Putri Tanjung (CEO Creativepreneur), Ayu Kartika Dewi (Perumus Sabang Merauke 1000 Anak Bangsa), Andi Taufan (CEO Amarta Microfintech), Billy Mambrasar (CEO Kitong Bisa), Angkie Yudistia (Sociopreneur di Disable Enterprise), dan Aminuddiin Maruf (Mantan Ketua PMII) juga akan bekerja bersama Belva selama 5 tahun kedepan.

Penulis: Ananda Triana
Foto: Istimewa