Semifinal, Singo Edan Unggul Recovery, Lini Belakang Jadi Titik Lemah Arema FC

Dirintis dengan Bangunan Bambu, Terapkan Jamu Jati Jaran

SAMARINDA – Arema FC menatap babak semifinal Piala Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) 2018 besok (2/3) di Stadion Segiri, Samarinda, dengan optimisme tinggi. Lantaran, tim berjuluk Singo Edan ini unggul recovery dibandingkan calon lawannya. Arema FC terakhir berlaga pada Selasa lalu (27/2), sedangkan calon lawannya yakni Persebaya Surabaya dan Sriwijaya FC, baru melakoni laga tadi malam (28/2).

Pelatih Arema FC Joko ”Gethuk” Susilo menyatakan, dia ingin benar-benar memanfaatkan keunggulan satu hari untuk proses recovery dan rekondisi para pemainnya.

”Benar, memang kami unggul recovery. Dan, kami harus memanfaatkan hal itu sebaik mungkin,” ucap pelatih yang akrab disapa Gethuk itu kemarin (28/2) di Samarinda.

Kendati demikian, waktu recovery tersebut sebenarnya masih kurang. Lantaran, idealnya pemain sepak bola recovery-nya selama tiga hari. ”Meskipun tiga hari sebenarnya bukan waktu yang ideal jika kondisinya ingin benar-benar pulih,” ucap pelatih pemegang lisensi A kepelatihan dari AFC itu.

Sedangkan di turnamen Piala Gubernur Kalimantan Timur, timnya harus melaksanakan empat laga dalam kurun waktu delapan hari. ”Ini bukanlah waktu yang normal,” terang eks pemain Arema era Galatama tersebut.



Karena itu, Gethuk menjelaskan bahwa dia akan memanfaatkan hal ini baik-baik untuk menjaga asa lolos ke babak berikutnya. ”Pasti kami akan memanfaatkan ini dengan benar. Yang pertama tentu dengan program latihan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, program-program tersebut adalah program untuk rekondisi para pemain agar tetap prima meskipun hal itu tetap terkesan dipaksakan. Program itu seperti ice bath, pemanasan fisik di pagi hari, dan bermain futsal maupun melempar bola untuk latihan pembagian bola, taktik, dan strategi.

Selain itu, kedisiplinan pemain dalam mengatur kondisi mereka juga diharapkan maksimal. ”Itu bisa dilakukan dengan meningkatkan kedisiplinan para pemain,” imbuh bapak lima anak itu.

Dia menyebutkan bahwa kedisiplinan pemain menjadi salah satu sorotan tim pelatih kepada pemainnya karena para pemain berada di kamar mereka masing-masing dan melakukan aktivitasnya sendiri-sendiri. Seperti mengonsumsi makanan yang tidak sehat maupun waktu istirahat yang terbilang masih kurang.

Meski begitu, Gethuk tampaknya masih memercayai para pemainnya agar mereka tetap bersikap profesional dan mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk menjaga tubuhnya. ”Tapi, kami percaya pemain bisa menjaga kondisi mereka,” jelasnya.

Menurut dia, yang menjadi masalah utama adalah krisis pada lini belakang Arema. Sebab, banyak penggawa di lini belakang Arema yang tidak bisa tampil. Misalnya saja Agil Munawar, Syaiful Indra Cahya, Zaenuri, Purwaka Yudhi, dan terakhir Johan Alfarizie yang terkena kartu merah.

”Sebenarnya masalah yang kami hadapi bukan teknik, taktik, maupun conditioning. Tapi, banyaknya pemain kami yang cedera,” ujarnya.

Namun, ketika disinggung kembali apakah dia sudah menyiapkan langkah antisipasi, dirinya masih bingung. ”Untuk saat ini kami belum bisa menentukan apakah harus rotasi atau tidak,” terangnya. Sebab, memang untuk melakukan rotasi sekalipun, Arema sudah minim memiliki stok di lini belakang.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Gigih Mazda