Selamat Jalan Emil Sanossa, Legenda Sastra Indonesia

Dunia sastra Indonesia berduka. Sutradara, penulis, dan cerpenis H Emil Sanossa (80) tutup usia pada Senin, 12 Februari 2018, pukul 23.00 di kediamannya, Jalan Taman Sengkaling blok 5, Villa Sengkaling, Malang. Jenazahnya dimakamkan di permakaman Islam Mulya Agung, Desa Mulyo Agung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

MALANG KOTA – Dunia sastra Indonesia berduka. Sutradara, penulis, dan cerpenis H Emil Sanossa (80) tutup usia pada Senin, 12 Februari 2018, pukul 23.00 di kediamannya, Jalan Taman Sengkaling blok 5, Villa Sengkaling, Malang. Jenazahnya dimakamkan di permakaman Islam Mulya Agung, Desa Mulyo Agung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

”Bapak (Emil) meninggal karena penyakit yang sudah dideritanya selama kurun waktu 10 tahun terakhir,” ucap Samsul, tetangga yang ikut melayat ke rumah duka.

Di masa tuanya, penulis ratusan naskah drama televisi era 80-an di TVRI dan TPI (sekarang MNC TV) itu hidup sendiri di Kota Malang. Menurut keterangan Samsul, Emil merupakan sosok yang mandiri. Karena itu almarhum memilih hidup sendiri di masa tuanya dengan tinggal di perumahan elit di seberang Taman Rekreasi Sengkaling.

Emil Sanossa lahir pada tanggal 2 Februari 1938. Pria yang meninggalkan 5 anak dan 12 cucu itu semasa hidupnya merupakan penulis naskah fenomenal. Karyanya yang berjudul Fajar Sidik dan Menyongsong Ufuk dikenal luas oleh masyarakat saat itu. Walaupun sudah berusia senja, Emil tetap aktif menulis puisi yang diterbitkan menjadi buku bersama penulis-penulis muda Malang.

Untuk diketahui, Emil Sanossa merupakan salah satu pembina komunitas seni anak-anak muda di Kota Malang. ”Bapak orangnya mempunyai semangat yang tinggi dan terbuka untuk siapa saja yang ingin menimba ilmu darinya,” ujar Sofyan, salah satu anggota komunitas seni Malang.



Pada tahun 2009, Emil masih sempat menulis puisi panjang berjudul Doa Akasyah dan Perjamuan Pertobatan yang diterbitkan dalam sebuah buku bersama Komunitas Lembah Ibarat. Karya lainnya yang masih kerap dimainkan oleh teater tanah air sampai saat ini adalah drama Fajar Sidik. Emil bahkan pernah mendapatkan penghargaan Seniman Jawa Timur pada tahun 2007 sebagai Penulis Naskah Drama atau Skenario Film dari Imam Utomo, gubernur Jawa Timur waktu itu. Selain naskah Fajar Sidik, almarhum juga menulis naskah drama Tuan Kondektur yang fenomenal.

Lelaki berbadan tegap tersebut mengawali karirnya di Madiun pada tahun 1955 sebelum pindah ke Surabaya lalu ke Jakarta. Putri kandungnya, Nila Kandi, tampaknya meneruskan jejak sang ayah. Nila juga bekerja di dunia seni dan kreatif di MNC TV.

Emil yang juga dikenal sebagai Anggota Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) pernah terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Lumajang pada periode 1969–1970 dan menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Lumajang tahun 1971. Selama menjadi anggota dewan, Emil sempat berhenti menulis. Waktunya habis untuk pergulatan politik.

Pada tahun 1980 dia merasa jenuh dengan panggung politik yang dianggapnya tidak adil. Emil memutuskan berhenti menjadi anggota dewan dan kembali ke Malang untuk menulis. Lahirlah lima naskah yang semuanya memegangi lomba naskah drama TVRI di Surabaya pada 1980.

Pewarta : nr3
Penyunting : Aris Syaiful
Copy Editor : Arief Rohman