Sekolah Kena Merger, Guru Honorer Merana

Kebijakan merger sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Malang tak hanya berimbas pada para murid. Para guru honorer yang sekolahnya dilebur justru nasibnya paling tak diuntungkan.

KEPANJEN – Kebijakan merger sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Malang tak hanya berimbas pada para murid. Para guru honorer yang sekolahnya dilebur justru nasibnya paling tak diuntungkan. Sebab, tidak ada kebijakan khusus yang melindungi mereka setelah sekolahnya dimerger.

Salah satu sekolah yang dimerger adalah SDN Ngingit 01 dan SDN Ngingit 02, Kecamatan Tumpang. Kepala SDN Ngingit 01 Nunung Sulasono menyampaikan, merger sudah berlangsung sejak tahun ajaran lalu. Namun secara administratif, status siswanya masih murid SDN Ngingit 02.  ”Jadi di sini hanya ikut proses belajar mengajarnya saja, tapi tahun ini sudah murni jadi siswa kami,” katanya.

Nunung menyampaikan, tahun sebelumnya total ada enam siswa pindahan dari SDN Ngingit 02 yang bersekolah di tempatnya. Lima siswa di antaranya duduk di bangku kelas VI dan saat ini sudah lulus, lalu yang satu lagi duduk di bangku kelas V yang sekarang naik kelas VI. Tidak ada kendala yang signifikan bagi murid dengan adanya merger ini. Namun jika dibandingkan dengan sekolah asalnya, jarak dari rumah mereka memang lebih jauh.

Soal guru, Nunung menyampaikan, tidak satu pun guru SDN Ngingit 02 yang dimutasi ke sekolahnya. ”Tidak ada yang dipindah ke sini. Saya juga kurang paham mereka dipindahkan ke mana,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang Slamet Suyono menyampaikan, merger sekolah ini tidak berdampak pada guru yang telah berstatus pegawai negeri sipil (PNS). ”Yang jadi masalah justru guru honorer karena tidak ada kepastian untuk diterima bekerja di sekolah lain,” kata Slamet.

Para guru sekolah yang sudah berstatus sebagai PNS oleh disdik langsung dialihkan ke sekolah lainnya karena dari segi jumlah, Kabupaten Malang masih membutuhkan. Namun untuk guru honorer, Slamet berharap agar para kepala sekolah (kasek) yang merekrut mereka bisa membantu. ”Saya mohon kebijakan kasek yang dimerger untuk menampung guru-guru honorer tersebut supaya ikut mengajar di sekolahnya yang baru,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sembilan SDN terpaksa dimerger dengan alasan jumlah siswanya tidak memenuhi persyaratan minimal untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Pewarta: Farikh Fajarwati
Penyunting: Ahmad Yani
Copy Editor: Indah Setyowati