Sekolah Kawasan Bukan Sekolah Khusus

JawaPos.com – Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya berhasil melobi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mempertahankan sebelas sekolah kawasan. Selama ini sekolah-sekolah tersebut dijuluki sekolah favorit. Namun, kalangan dewan menilai dinas pendidikan tidak boleh menyebut sekolah kawasan itu sebagai sekolah favorit.

Dalam konferensi pers awal Mei lalu, Kepala Dispendik Surabaya Ikhsan menyebutkan bahwa sekolah kawasan tersebut tetap bisa dipertahankan karena termasuk kategori sekolah khusus. Namun, anggota Badan Anggaran DPRD Surabaya Reni Astuti menanyakan dasar penentuan sekolah khusus itu. ”Sekolah khusus diatur dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Apakah sebelas sekolah kawasan masuk kriteria itu? Kalau tidak, hati-hati menggunakan dasar acuan,” ujar Reni Dalam UU Sisdiknas disebutkan bahwa sekolah yang menyelenggarakan pendidikan khusus diperuntukkan peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran. Faktornya meliputi kelainan fisik, emosional, mental, sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Reni mengharapkan zonasi khusus untuk sekolah kawasan tersebut memiliki dasar hukum yang jelas. Sebab, selain UU Sisdiknas, banyak peraturan turunan yang mengatur tentang pendidikan khusus belum pas untuk dijadikan dasar. “Jangan sampai zona kawasan itu dipaksakan, tapi tidak sesuai permendikbud,” ujar wakil ketua Fraksi PKS tersebut.

Banyak yang masih khawatir sistem PPDB yang dibuat pemkot tersebut bakal dipermasalahkan Kemendikbud. Sebab, sekolah kawasan merupakan modifikasi sistem zonasi yang diatur dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB. Apalagi, ada teguran Mendikbud Muhadjir Effendy kepada Pemprov Jatim yang memodifikasi aturan PPDB SMA/SMK.



Kadispendik Ikhsan mengharapkan seluruh wali murid tidak khawatir. Sebab, sistem zonasi kawasan sudah dikonsultasikan ke Kemendikbud. Dengan begitu, dia tetap melanjutkan finalisasi pembuatan sistem zonasi kawasan itu. “Untuk PPDB SMP kami jamin aman sudah sesuai,” katanya.

Mengenai istilah pendidikan khusus, Ikhsan sepakat dengan Reni. Dispendik tidak menyamakan 11 sekolah zonasi kawasan dengan pendidikan khusus. “Karena seperti yang disampaikan Bu Reni, pengertiannya memang beda,” katanya.

Sekolah kawasan tetap menyelenggarakan pendidikan selayaknya sekolah pada umumnya. Untuk bisa masuk 11 sekolah kawasan itu, ada jalur khusus yang diperebutkan dengan adu nilai di tes potensi akademik (TPA).

Namun, sekolah-sekolah kawasan tersebut tetap menampung siswa jalur zonasi reguler atau umum. Pada jalur itu, yang menjadi persyaratan utama hanya jarak rumah siswa dengan sekolah. Tak ada syarat lain. Jadi, murid yang tinggal di dekat sekolah kawasan punya keuntungan untuk mengambil jalur tersebut. Mereka bisa masuk sekolah favorit tanpa ikut TPA.

Ikhsan menerangkan, penyelenggaraan sekolah kawasan itu sudah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. Sebab, pemerintah pusat juga memiliki program sekolah rujukan. Yakni, sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya. “Yang pusat sudah 2-3 tahun ini berjalan. Tapi, kami kan sudah tujuh tahun. Jadi, mereka bisa memahami ada jalur khusus untuk sekolah kawasan kami,” tuturnya.

Dispendik sudah mengeluarkan jadwal pendaftaran PPDB SMPN. Jalur zonasi kawasan dimulai lebih dulu pada 12-14 Juni. PPDB zonasi reguler berlangsung pada 18-20 Juni. Sayang, belum ada petunjuk teknis (juknis) lebih detail mengenai PPDB. Termasuk pembagian kuota untuk zonasi kawasan.

Kuota sistem zonasi mencapai 90 persen. Namun, pemkot harus membaginya dengan zonasi reguler, zonasi kawasan, dan zonasi mitra warga. Khusus mitra warga, tidak ada masa pendaftaran dan seleksi. Sebab, pemkot sudah memiliki data warga tak mampu. Mereka sudah otomatis masuk ke sekolah dekat rumah. Tapi, tidak semua siswa mitra warga masuk SMP negeri. Distribusinya juga dibagi ke SMP swasta.

Pembagian Zonasi PPDB SMP

Zonasi Sekolah Kawasan

Zona 1 Surabaya Selatan: SMPN 12 dan 22

Kecamatan: Dukuh Pakis, Gayungan, Jambangan, Tegalsari, Wonocolo, dan Wonokromo

Zona 2 Surabaya Timur: SMPN 19 dan 35

Kecamatan: Gunung Anyar, Mulyorejo, Rungkut, Sukolilo, dan Tenggilis Mejoyo

Zona 3 Surabaya Pusat: SMPN 1, 3, dan 6

Kecamatan: Asemrowo, Bubutan, Genteng, Gubeng, Sawahan, dan Tambaksari

Zona 4 Surabaya Barat: SMPN 25 dan 26

Kecamatan: Benowo, Karang Pilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikerep, Sukomanunggal, Tandes, dan Wiyung

Zona 5 Surabaya Utara: SMPN 2 dan 15

Kecamatan: Bulak, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, Semampir, dan Simokerto

Zonasi Reguler

Dibagi menjadi 31 zona sesuai area kecamatan. Siswa tetap bisa memilih sekolah kawasan pada zonasi reguler. Namun, jumlah kuotanya belum ditentukan Dispendik Surabaya.

Sumber: ppdbsurabaya.net