Sekeluarga Pelajari Ilmu Biologi, Kalahkan 318 Tim Lintas Benua

Kota Malang patut bangga punya Ihya Fakhrurizal Amin. Karena tak hanya mampu mempersembahkan medali Olimpiade Sains Nasional (OSN) saat masih sekolah, tapi juga bisa mengharumkan Indonesia dalam ajang International Genetically Engineered Machine (IGEM) di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston, USA, bersama tim FK UI bulan lalu.

 

IMAM NASRODIN

 

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa ini tampaknya tepat untuk menggambarkan Ihya Fakhrurizal Amin, arek asal Kota Malang yang berprestasi hingga ke Amerika Serikat. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) ini meraih medali emas dalam ajang riset bergengsi kelas dunia International Genetically Engineered Machine (IGEM) yang digelar di salah satu kampus terbaik dunia: Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston, USA, bulan lalu.



Semua ini berawal atas kecintaannya pada ilmu biologi. Hal ini sama dengan bidang yang ditekuni orang tuanya, yakni Prof Dr agr Mohammad Amin SPd MSi dan Yayuk Prihatnawati. Ayahnya merupakan profesor biologi Universitas Negeri Malang (UM) yang sudah melahirkan beberapa buku biologi, sedangkan sang ibu adalah guru biologi di SMP Lab UM.

Mahasiswa kelahiran 10 Mei 1998 ini bercerita, dia mempersembahkan medali perak pada ajang OSN saat masih sekolah di MIN 1 Malang. Dia juga berhasil mempersembahkan medali emas pada SMP Semesta Semarang di ajang OSN SMP nasional. Baru saat masuk SMA, mahasiswa yang akrab disapa Rizal ini diminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang untuk pulang kampung. Yaitu, masuk di SMAN 3 Malang melalui jalur prestasi dan berhasil mempersembahkan medali perak untuk Kota Malang di ajang OSN bidang biologi kala itu.

Dia mengaku tak ada paksaan dalam menekuni bidang yang sama dengan orang tuanya. Menurut dia, kecintaannya pada ilmu biologi mengalir begitu saja. ”Mungkin terbiasa melihat ayah melakukan riset, jadi kebawa. Tapi, beneran nggak ada paksaan, orang tua membebaskan untuk menekuni bidang sesuai keinginan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Malang Minggu (9/12).

Namun, saat masih duduk di bangku SMA, Rizal sering membaca beberapa buku karya sang ayah untuk menambah literatur. Bahkan, jika ada kesulitan dalam memahami sebuah materi, dia juga sering bertanya kepada sang ayah. ”Paling kalau ada kesulitan, tanya ke Ayah saja. Selebihnya, ya belajar sendiri,” ungkap mahasiswa 20 tahun ini.

Hobinya di dunia riset tersebut juga terbawa hingga menempuh pendidikan di UI. Dia bergabung dalam Pusat Riset Berbasis Layanan Kesehatan Virologi dan Kanker Patobiologi (PRVKP).

Dia masuk dalam tim PRVKP FK UI yang membuat riset berupa finding dipthy. Total ada 14 mahasiswa yang masuk dalam tim ini, tapi yang dari Malang Raya hanya dia sendiri. Tim ini menghasilkan alat deteksi bakteri difteri. Untuk diketahui, bakteri difteri merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium dan gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan.”Tahapannya banyak, butuh banyak orang untuk melakukan penelitian,” terangnya.

Ide tersebut muncul karena setahun lalu bakteri tersebut sempat menjadi isu nasional. Jadi, tim ini berusaha menemukan cara untuk mendeteksi toksin (racun) difteri lebih cepat dari sebelumnya.

Dulu, cara mendeteksi toksin difteri dengan metode kultur bakteri, di mana di dalam tubuh yang diduga ada bakteri tersebut ditumbuhkan dulu, kemudian dilakukan treatment khusus. Jadi, membutuhkan waktu beberapa hari. ”Kalau pakai alat ini bisa diketahui saat itu juga,” ucap alumnus SMAN 3 Malang ini.

Cara kerja alat tersebut dengan mengambil mukosa mulut (kulit dalam yang sudah lepas, biasanya di bibir). Lalu, dimasukkan ke dalam alat yang sudah ada formula khusus. ”Nanti akan kelihatan kalau ada toksin difterinya,” terangnya.

Singkat cerita, karya tersebut berhasil meraih medali emas dalam ajang bergengsi tersebut. Total ada 318 tim dari berbagai negara di dunia, mulai Asia, Afrika, hingga Eropa. ”Mudah-mudahan bisa jadi motivasi yang lain (siswa dan mahasiswa, Red),” tandas anak pertama dari dua bersaudara ini.

Tak hanya itu, dalam proses penelitian tersebut juga ada cerita yang sulit dilupakan anggota tim. Salah satunya beberapa anggota tim harus terpaksa bolos kuliah, termasuk dia. Karena harus melakukan uji coba di laboratorium.

Karena sekali uji coba membutuhkan waktu 8–9 jam. Total ada 5–6 tahap besar dalam uji coba ini. Dan setiap tahap ini juga harus melalui tahapan-tahapan sendiri. Selain itu, jika ada tahapan lupa 1, maka harus mengulang dari awal lagi. Kegiatan ini dilakukan selama setahun. ”Makanya butuh banyak orang, itu pun sampai terpaksa bolos. Pernah juga ngulang dari awal, karena ada tahapan tertentu yang lupa dilakukan. Tahapannya harus urut,” ungkapnya.

Salah satu kuncinya adalah manajemen waktu. Karena kuliah di FK relatif padat tugas riset dan kuliahnya. ”Pokoknya manajemen waktu didisiplinkan,” tandas alumnus MIN 1 Malang ini. Ke depan, dia dan tim akan terus menyempurnakan riset tersebut. Jadi, hasilnya bisa bermanfaat untuk dunia medis. ”Ingin terus disempurnakan biar lebih bermanfaat,” pungkasnya.

Pewarta: Imam Nasrodin
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Imam Nasrodin