Sejak Awal Tahun, Nilai Tukar Rupiah Menguat 2,3 Persen

JawaPos.com – Hingga pekan ketiga September, Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah mengalami apresiasi 0,9 persen secara point to point. Namun secara rerata, mengalami apresiasi sebesar 1,0 persen dibandingkan dengan level Agustus 2019.

Dengan perkembangan tersebut, penguatan rupiah sejak awal tahun sampai dengan 18 September 2019 (year to date) sebesar 2,3 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penguatan nilai tukar rupiah tersebut sejalan dengan membaknya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

“Perkembangan ini ditopang oleh bekerjanya mekanisme permintaan dan pasokan valas dari para pelaku usaha, di samping aliran masuk modal asing,” kata Perry di Kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9).

Ke depan, Perry memandang, nilai tukar rupiah akan tetap stabil sesuai dengan mekanisme pasar yang terjaga. Perkiraan ini ditopang prospek aliran masuk modal asing yang tetap terjaga seiring prospek ekonomi domestik yang baik dan imbal hasil yang menarik, serta dampak positif kebijakan moneter longgar di negara maju.



Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, pihaknya terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan. Baik di pasar uang maupun valas maupun melalui penerbitan ketentuan penyelenggaraan Central Counter Party (CCP), transaksi Derivatif Suku Bunga dan Nilai Tukar Over-The-Counter, serta penyelenggara Sarana Pelaksanaan Transaksi di Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (Market Operator).

Di sisi lain, Perry memperkirakan inflasi juga tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2019 tercatat 0,12 persen (month to month/mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,31 persen (mtm).

Secara tahunan, inflasi Agustus 2019 tercatat 3,49 persen (year on year/yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,32 persen (yoy).

“Inflasi yang terkendali didukung oleh inflasi inti yang tetap terjaga didukung ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, dan pengaruh harga global yang minimal,” jelasnya.

Sebaliknya, menurut Perry, kenaikan inflasi inti pada beberapa bulan terakhir lebih banyak dipengaruhi kenaikan harga emas global serta dampak lanjutan inflasi volatile food yang sempat meningkat. Perkembangan terkini menunjukkan inflasi kelompok volatile food telah melambat, seiring dengan terjaganya pasokan bahan pangan.

Sementara itu, kelompok administered prices kembali mencatat deflasi dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan. Terutama angkutan udara akibat implementasi strategi maskapai pada masa low season. Ke depan, pihaknya akan tetap menjaga stabilitas harga dengan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan terkendalinya inflasi.

“Inflasi 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,5 plus minus 1 persen dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0 plus minus 1 persen pada 2020,” pungkasnya.