Sehari Kurang, 50 Nyawa Hilang di Afghanistan

JawaPos.com – ”Ini mengerikan.” Atif Baloch melontarkan pernyataan itu sembari melihat sekelilingnya dengan perasaan tak percaya. Sebagaimana dilansir Agence France-Presse, dia salah satu saksi mata pengeboman di Rumah Sakit Qalat, Zabul, Afghanistan, Kamis (19/9). Rumah sakit yang dekat dengan rumahnya itu sudah tidak bisa dikenali lagi karena luluh lantak.

Setidaknya 20 nyawa melayang dan 95 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan menjelang subuh itu. Mayoritas korban adalah dokter, pasien, dan keluarga pasien. Jumlah korban bisa bertambah karena evakuasi masih berlangsung. Mereka yang terluka akhirnya dilarikan ke rumah sakit lain di Kandahar.

Gubernur Zabul Rahmatullah Yarmal mengungkapkan, sejatinya Taliban menyasar gedung pusat pelatihan intelijen Direktorat Keamanan Nasional (NDS). Namun, pelaku justru meletakkan truk kecil yang berisi bahan peledak di dekat rumah sakit yang bersebelahan dengan gedung itu. Gedung NDS juga rusak, tapi tak separah rumah sakit tersebut.

Serangan itu bukanlah yang terparah. Kurang dari 24 jam sebelumnya, 30 nyawa juga melayang sia-sia. Bukan dibunuh Taliban, melainkan pemerintah. Militer Afghanistan yang didukung Amerika Serikat salah menjatuhkan bom. Mereka seharusnya menyerang persembunyian kelompok militan ISIS. Faktanya, bom justru dijatuhkan di sebuah ladang di Wazir Tangi, Distrik Khogyani, Provinsi Nangarhar.



”Para pekerja menghidupkan api unggun dan duduk bersama ketika sebuah pesawat tanpa awak menjadikan mereka target,” ujar Malik Rahat Gul, tetua di Wazir Tangi.

Versi pemerintah, korban jiwa baru sembilan orang. Yang jelas, korban luka sudah mencapai 40 pekerja. Mereka adalah pekerja harian yang biasa memetik kacang pinus di ladang dekat lokasi pengeboman.

Serangan Taliban kian menggila menjelang pemilu presiden 28 September mendatang. Terlebih, perundingan damai dengan AS juga gagal. Taliban sudah memperingatkan bahwa anggotanya akan meningkatkan serangan untuk melawan pemerintah dan pasukan asing di Afghanistan. Itu dilakukan untuk menghalangi orang memberikan suara dalam pemilu nanti.