Segera, Seleksi Beasiswa Khusus Palestina

akil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Dr Ir M. Sasmito Djati MS.

MALANG KOTA – Palestina Will Be Free. Harapan sebagaimana tertulis dalam judul lagu Maher Zain itu hingga kini masih sebatas harapan. Palestina masih jauh dari merdeka. Kendati demikian, Universitas Brawijaya (UB) berusaha ”memerdekakan” sebagian generasi terbaik dari negara tersebut.

Caranya dengan memberi beasiswa gratis kepada mahasiswa asal Palestina. Pada Maret mendatang, tim dari UB dan Kementerian Luar Negeri akan menyeleksi siapa saja yang akan mendapatkan beasiswa.

”Kami berusaha memberikan yang bisa kami lakukan dalam bentuk beasiswa. Yang sekarang ini tertindas secara human right Palestina,” ucap Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Dr Ir M. Sasmito Djati MS, kemarin (6/2).

Palestina sendiri dipilih karena mereka punya pemerintahan tetapi tidak diakui. Ada syarat khusus yang akan mendapatkan beasiswa. Yakni, mereka harus seorang pegawai negeri di negaranya.

Lalu, kenapa harus pegawai negeri? ”Karena kalau pegawai negeri pasti kembali. Mereka harus kembali ke negaranya. Karena kalau mereka kami biayai lalu lari, misal ke Amerika kemudian membangun Amerika, kan tidak ada gunanya,” terangnya.



UB akan mengkhususkan warga Palestina yang tinggal di daerah yang dikuasai Israel, seperti di Gaza, Jerussalem, dan sebagainya. Targetnya, akan ada sekitar enam hingga sepuluh orang yang akan mendapatkan beasiswa. Umur yang mendapat beasiswa ini dikhususkan untuk yang masih muda, yakni di bawah 35 tahun.

Kehidupan mereka yang nantinya mendapatkan beasiswa akan ditanggung UB. Semuanya gratis. Untuk jenjang beasiswanya adalah S-2 dan S-3. Bidang ilmunya, melihat fakultas yang siap. Sasmito mencontohkan seperti pemerintahan, ilmu sosial, ekonomi, dan peternakan.

”Nanti, insya Allah rencana ada rusunawa di sini untuk mahasiswa internasional. Insya Allah mereka (mahasiswa dari Palestina) kami bawa ke sana,” ujarnya.

Apabila nanti sudah diterima, UB akan lebih mengenalkan budaya Indonesia. Mereka akan belajar dari Indonesia yang memiliki banyak perbedaan tetapi bisa hidup berdampingan. ”Harapan kami, mereka bisa melihat kita sebagai bangsa yang menghargai perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UB Prof Dr Mohammad Bisri MS sempat angkat bicara terkait kebijakan Donald Trump (presiden Amerika Serikat) terhadap Palestina dalam acara Refleksi Akhir tahun lalu. Dia mengecam kebijakan Trump terkait penetapan status Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Pernyataan sikap ini, kata Bisri, didasari pembukaan UUD 1945. Yaitu, kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

”Kami (UB) mengecam kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penetapan status Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Atas dasar itulah kami ingin memberikan wujud kepedulian kami itu. Kami bersama pemerintah dan rakyat Indonesia tetap konsisten memberikan dukungan, dan bersama rakyat Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan dan hak mereka,” ungkap Bisri.

Pewarta : Imarotul Izzah
Penyunting : Irham Thoriq
Copy Editor : Arief Rohman
Foto: Imarotul Izzah