Segera, Museum Peradaban Islam Berdiri di Malang

Wacana pembuatan Museum Peradaban Islam di Indonesia mengerucut ke Kota Malang. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komisaris Jenderal (Komjen) Syafruddin di sela-sela peresmian Masjid Raden Patah di Universitas Brawijaya (UB) kemarin (6/4).

MALANG KOTA – Wacana pembuatan Museum Peradaban Islam di Indonesia mengerucut ke Kota Malang. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komisaris Jenderal (Komjen) Syafruddin di sela-sela peresmian Masjid Raden Patah di Universitas Brawijaya (UB) kemarin (6/4).

Dalam peresmian kemarin dia didampingi Rektor UB Prof Dr Mohammad Bisri MS. Sekitar pukul 11.30 WIB, Syarifuddin diminta meresmikan masjid megah tersebut. Setelah salat Jumat, dia menerangkan keinginan DMI mendirikan Museum Peradaban Islam. ”Iya nanti ada tiga museum di Indonesia. Yakni, di Cirebon, Surabaya, dan Malang,” ucapnya.

Ketiga kota ini ditentukan bukan tanpa alasan. Ada riset yang dilakukan DMI selama setahun terakhir. Di tiga daerah itu, selain ada wali singo, banyak ulama. Kota Malang, misalnya. Kota Malang dinilai tepat karena banyak mahasiswa muslim di sini yang mendalami ajaran Islam.

Di sisi lain, sebelum peresmian dimulai, Ketua Takmir Masjid Raden Patah UB Prof Dr Unti Ludigdo menjelaskan tentang profil yang akan diresmikan itu. Menurut dia, nama Raden Patah merupakan nama raja Islam pertama di tanah Jawa. Diharapkan, masjid ini menjadi salah satu pusat peradaban di Indonesia. ”Harapan kami, kita semua bisa mengembalikan fungsi masjid. Tidak hanya untuk salat, tapi juga untuk pengembangan pengetahuan,” kata pria yang juga dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini.

Dalam sejarahnya, masjid ini mulai dirintis pada masa rektor Prof Dr Harsono. Melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang menawarkan bantuan, masjid ini akhirnya terbangun.

Pada masa rektor Prof Dr Yogi Sugito, bangunan masjid ini dipugar total, dan dibangun lagi dengan arsitektur bergaya Majapahit. Arsiteknya adalah Ir Ali Sukirno, dosen senior di UB. Masjid Raden Patah akhirnya bisa diselesaikan pada era Prof Dr Mohammad Bisri. Dananya bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hingga 2018 ini, masjid tersebut menelan anggaran Rp 39 Miliar. Luas bangunan keseluruhan adalah 6.830 meter persegi, dan bisa menampung 4.500 jamaah untuk salat, dan 7.000 jamaah pengajian.

Sementara itu, pendakwah kondang Syeikh Ali Jaber yang hadir dalam acara tersebut mengatakan kalau orang Indonesia harus lebih banyak bersyukur. Lantaran, nikmat berupa negara yang aman tidak dimiliki banyak negara Islam lainnya seperti Palestina dan Lebanon. ”Kita harus melihat seperti apa susahnya saudara kita di Palestina dalam hal ibadah,” imbuhnya.

Pewarta : NR1
Penyunting : Irham Thoriq
Copy Editor : Arief Rohman
Foto : Rubianto