Sediakan Ratusan Tanaman untuk Warga

JawaPos.com – Pondok Pesantren Ath Thaariq tidak melulu soal kajian kitab. Pesantren di Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Garut, itu juga menanamkan pemahaman ekologi kepada para santrinya. Semangat yang diinisiasi Ustad Ibang Lukman Nurdin bersama istrinya, Nissa Saadah Wargadipura, itu menyebar ke berbagai penjuru.

Nama pesantren yang mereka bangun pun terdengar di banyak telinga. Hari menjelang magrib. Moch. Arfan, 15, santri Ath Thaariq, tampak sibuk mengurus kebun bersama beberapa santri lain.

“Di sini belajar ekologi, agama, dan alam,” ungkap remaja asal Palu, Sulawesi Tengah, itu. Para santri berbagi tugas. Ada yang menyiram, ada pula yang memilah-milah hasil tanaman yang sudah dijemur seharian. Lantaran sekolah libur, santri Ath Thaariq lebih punya banyak waktu di kebun. Mengurus ratusan jenis tumbuh-tumbuhan yang memenuhi pondok mereka. Padi, kerokot, kenikir, sambung nyawa, ginseng, paci-paci, rosela, dan aneka tumbuhan lain.

Ibang dan Nissa memang menekankan konsep ekologi kepada para santri. Baik teori maupun praktik. “Ekologi itu sesuatu yang esensi bagi manusia,” terang Ibang. Dia menyampaikan bahwa Nabi Adam berikut semua penerusnya sudah dititipi bumi oleh Allah. Titipan khusus. Sampai-sampai, tidak ada satu pun makhluk lain yang mendapat titipan serupa. Termasuk malaikat yang benar-benar taat kepada Allah SWT. Karena itu, ekologi sangat penting. “Inilah mengapa manusia memiliki tanggung jawab yang luar biasa terhadap ekologi, terhadap bumi,” ujar Ibang.



Melalui ekologi, para santri Ath Thaariq diajari cara berdaulat di atas tanah sendiri. Mereka ditempa supaya bisa hidup berdampingan dengan alam. Bukan malah merusak alam.

Kepada para santri, Ibang mengungkapkan, menjaga bumi dan alam termasuk sedekah. Pahalanya bisa terus mengalir walau maut menjemput. Dia pun memberikan contoh sederhana. Menanam satu tanaman. “Dari tanaman yang saya tanam itu mengalir pahala,” jelasnya. Sebab, jika hidup dan tumbuh, tanaman tersebut sudah pasti memberikan manfaat. Bukan hanya bagi manusia, melainkan juga untuk alam.

Sebelas tahun sudah Ath Thaariq hadir. Selama itu pula mereka membuktikan bahwa penekanan terhadap ekologi bisa membuat mereka bertahan. Menyediakan tempat belajar agama bagi para santri secara cuma-cuma. Juga, menjadi lumbung ilmu bagi mereka yang ingin belajar lebih jauh soal ekologi. Di Ath Thaariq, tidak ada batasan. Sebab, pondok itu terbuka bagi semua. Termasuk yang beda keyakinan sekalipun.

Untuk itu, pesantren kilat yang menjadi salah satu program Ath Thaariq juga bisa diikuti nonmuslim. “Sampai sekarang masih,” ungkap Ibang. Ibang juga sering membuka dialog antaragama. Dia tidak jarang mengundang pemuka agama lain untuk berkunjung ke pesantrennya. Sering juga mereka belajar bersama soal ekologi.

Bagi masyarakat di sekitar pondok, At Thaariq bukan sebatas tempat menimba ilmu agama. Mereka turut menjadikan pesantren itu sebagai salah satu pilihan apabila mencari obat-obatan. Menjadi laboratorium kecil untuk penelitian. Maklum, dari ratusan jenis tanaman di sana, banyak yang punya khasiat mengobati beragam penyakit. Baik yang ringan-ringan seperti migrain maupun penyakit berat seperti diabetes.

Sebagian hasil kebun di Ath Thaariq memang dipakai untuk kebutuhan hidup pesantren. Termasuk para santri. Namun, tidak sedikit pula yang dibagi untuk masyarakat sekitar. Selain lahan terbatas yang luasnya tidak lebih dari 1 hektare itu, mereka punya lahan lainnya di wilayah Garut Selatan.

“Luasnya 12 hektare,” ucap Ibang. Lahan itu dinamai Institut Tangoli. Walau tidak setiap hari, para santri juga sering diajak berkebun di sana.