Sebulan, Kebakaran Tembus 31 Kejadian

MALANG KOTA – Kasus kebakaran di Kota Malang masih menjadi momok menakutkan. Apalagi sepanjang bulan Oktober lalu, terjadi peningkatan kasus yang cukup signifikan. Sayangnya, meski selama ini peralatan pemadaman masih kurang memadai, rencana pembelian peralatan pendukung untuk menjinakkan api gagal direalisasikan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat, total ada 31 kasus kebakaran dari total 43 kejadian bencana di Kota Malang sepanjang bulan Oktober.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang Alie Mulyanto menyebut, kasus kebakaran terjadi kebanyakan di lahan terbuka dan gedung. Baik bangunan bertingkat maupun tidak. ”Saat kemarau memang tak dipungkiri bisa menyebabkan kebakaran, terutama di lahan kosong,” terangnya.

Alie menjelaskan, jumlah bencana kebakaran di bulan Januari dan Februari masing-masing hanya satu kasus. Kemudian mengalami peningkatan di Maret menjadi delapan kasus. Di awal kemarau atau sekitar bulan April, angka kebakaran malah menurun jadi tiga kasus dan kembali meningkat jadi enam kasus pada bulan Mei.

Selanjutnya Juni tercatat ada delapan kasus kebakaran dan 12 kebakaran sepanjang Juli. ”Empat kasus kebakaran di Agustus dan sembilan kasus di September. Oktober ini luar biasa, ada 31 kasus kebakaran,” terang dia.

Faktornya, Alie menyatakan karena kelalaian manusia. Selain itu, juga dipicu kondisi cuaca yang panas serta angin yang kencang dan membuat sebuah lahan mengalami kebakaran.

Dia menerangkan, akibat bencana kebakaran yang terjadi sepanjang Oktober 2019, total kerugian mencapai Rp 563 juta. Selain kebakaran, bencana yang terjadi sepanjang Oktober adalah angin kencang, pohon tumbang, dan lainnya mencapai 184 kejadian bencana. Kerugian yang ditanggung dari kerusakan itu kurang lebih Rp 10 miliar.

Di sisi lain, angka kebakaran yang meningkat ini tentu harus diantisipasi terus oleh masyarakat maupun pihak pemadam kebakaran. Plt Kepala Unit Pelaksana Teknis Damkar Kota Malang Antonio Viera menyebutkan, pihaknya hingga kini masih kekurangan hidran. Saat ini, Kota Malang baru memiliki 19 hidran saja. ”Idealnya, Kota Malang perlu memiliki 30 hidran,” bebernya.

Dia menjelaskan, minimnya hidran membuat kesulitan saat terjadi bencana kebakaran. ”Contohnya yang kebakaran sebuah rumah di Kampung Warna-Warni beberapa bulan lalu itu, kami cukup kesulitan,” ujarnya. Karena akses pemadamannya sulit, tentu perlu pemadaman dengan cara lain.

Misalnya dalam kasus Kampung Warna-Warni pihaknya memadamkan api dari atas jembatan. Toh selama ini, kawasan Boldi dan dekat Stasiun Kota Baru masih menjadi sumber pengisian hidran. Tentu belum imbang dengan luas Kota Malang yang cukup besar.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani