Sebelum Tewas di Gitgit, Ucik Sempat Diajak Nikah, Ini Rencana Mereka Sinergi Jawa Pos

Kakak sulung korban, Luh Yuliantari mengatakan prosesi pemakaman korban akan dilakukan dengan upacara makingsan ring geni di setra pakraman Desa Dencarik, Kecamatan Bajar, Buleleng, pada Selasa (19/12) hari ini. Rencananya jenazah korban akan diberangkatkan dengan ambulance pukul 09.00 wita menuju rumah kediaman ayahnya I Putu Gede di Desa Dencarik.

Korban Komang Darmini yang akrab disapa Ucik adalah anak bungsu pasangan I Putu Gede, 54 dengan Wayan Idep, 55. Hanya saja sejak kecil hingga tutup usia korban Ucik memang diasuh oleh pamannya Nyoman Tirta di Kelurahan Kalintu, Buleleng.

“Tiang (saya, Red) tidak ada firasat apapun. Saya selalu tidur sama dia kalau pulang dari Denpasar. Tidak ada yang janggal, semuanya baik-baik saja. Bahkan saat dia pulang, malam minggunya, (Sabtu, 16/12, Red) kami sempat jalan-jalan dan makan malam bersama di seputaran Buleleng,” tutur Yuli, Senin (18/12) kemarin.

Sampai korban memutuskan untuk kembali ke Denpasar pun tidak ada tanda-tanda yang janggal. Namun, korban tumben balik lebih awal dengan alasan akan menyervise sepeda motornya sebelum balik ke Denpasar.



Yuli pun bercerita bahwa adik bungsunya itu merupakan sosok adik yang penurut dan paling rajin. Saat pulang ke Buleleng, korban Ucik selalu semangat mengerjakan seluruh pekerjaan rumah hingga bersembahyang.

Guratan kesedihan tak hanya terlihat pada ekpresi keluarga korban. pun juga dirasakan oleh kekasih korban, Putu Jiwa Ariadi, 22. Bahkan Jiwa mengaku sudah enam tahun lamanya menjalin hubungan asmara dengan Komang Darmiasih. Meski demikian, kepergian korban sedikitpun tak meninggalkan firasat atau pesan perpisahan.

“Komunikasi terakhir dengan dia pada Senin sekitar pukul 13.00 wita. Dia pamitan mau berangkat ke Denpasar,” ungkap Jiwa sembari menujukkan percakapan terakhir almarhum di BBM-nya. 

Jiwa pun mengaku tidak menyangka jika sang kekasih akhirnya pergi untuk selamanya. Pasalnya, saat berpamitan korban mengaku terpaksa berangkat ke Denpasar lebih awal, agar tidak terjebak hujan dan banjir saat diperjalanan. 

Namun nasib berkata lain. Saat melintas tepat di kilometer 12-13, Banjar Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, nyawa korban direnggut oleh Bus yang mengalami rem blong. 

“Dia berangkatnya lebih awal dari biasanya. Nah sebelum ke Denpasar, dia sempat bilang mau servis motornya dulu. Terus sekitar jam satu siang dia nelpon, bilang mau balik ke Denpasar. Kalau sorean takut kena hujan. Selang beberapa menit kemudian, saya lagi tidur-tiduran di rumah tiba-tiba dihubungi sama kakaknya almarhum, yang mengabarkan kalau dia terlibat kecelakaan di Gitgit, dan meninggal,” kata Jiwa dengan mata berkaca-kaca. 

Selama enam tahun menjalin asmara dengan korban,  Jiwa sempat mengajak korban untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Namun ajakan itu ditolak oleh korban dengan alasan ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Malangnya lagi, sepasang kekasih ini juga sudah menyusun rencana indah mereka ketika wisuda nanti.

“Dulu saat pacaran sering kok saya ajakin dia nikah. Tapi minta ditunda dulu. Katanya tunggu selesai kuliah dulu. Dia minta agar saya mapan. Saya disuruh belajar bawa mobil. Kami juga sudah mengumpulkan uang buat beli mobil. Jadi nanti kalau dia wisuda, biar saya bawa mobil dari Singaraja, bawa keluarganya bersama-sama ke kampusnya lihat dia Wisuda, foto bareng,”  kenangnya. 

(bx/dik/ima/yes/JPR)