Satu Jam, Angkat 10 Kilogram Tumor Payudara

MALANG KOTA – Bisa jadi, ini menjadi operasi pengangkatan tumor payudara dengan bobot paling besar yang pernah dilakukan rumah sakit di Malang Raya. Bahkan, tumor yang diangkat itu tergolong langka karena hanya terjadi pada 1 di antara 250 kasus tumor maupun kanker payudara.

Itulah yang terjadi di kamar operasi Rumah Sakit Tentara (RST) Dr Soepraoen Malang kemarin pagi (20/7). Operasi itu dilakukan oleh tim yang beranggotakan enam tenaga medis pada pukul 09.15– 10.15 atau selama 1 jam. Termasuk dokter spesialis bedah dan spesialis anestesi.

Tim dokter RST Dr Soepraoen Malang saat mengoperasi pasien tumor phyllodes Kamis pagi (20/7).

Tumor payudara itu sudah hampir tiga tahun ini menjangkiti payudara bagian kanan Maria Kristiningsih, 40, warga Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Jenisnya tergolong langka: Tumor phyllodes.

Tumor itu membuat ukuran payudara bagian kanan milik Maria empat kali lebih besar dari payudara bagian kirinya. Bahkan, saat dibawa ke RST Soepraoen, payudara kanan pasien itu mulai pecah dan mengeluarkan cairan berwarna kuning bercampur darah. Mengeluarkan seluruh cairan itu menjadi prioritas pertama tim dokter dalam operasi kemarin.

Setelah itu, barulah tim dokter berusaha mengangkat tumor itu dengan gunting dan laser. Tapi, karena ukurannya yang besar, tim dokter memutuskan untuk mengangkat seluruh bagian payudara kanan pasien tersebut.



Setelah ditimbang, berat tumor phyllodes itu mencapai 10 kilogram. Untuk ukuran tumor payudara, ini tergolong berat. ”Biasanya, saya mengoperasi tumor payudara seberat 3,5 kilogram,” ujar spesialis bedah RST Dr Soepraoen Dr Sidho Hantoko SpB(K)Onk.

Lalu, apa sebenarnya tumor phyllodes itu? Tumor bernama latin cystosarcoma phyllodes ini tergolong langka bila dibandingkan dengan kasus tumor maupun kanker yang menyerang payudara pada umumnya.

Bahkan, dari hasil penelitian yang di-publish Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, insidensinya (frekuensi penderita baru) hanya sekitar 0,3–0,9 persen dari seluruh kasus tumor payudara.

”Setiap tahun, yang saya tangani ada sekitar 250 kasus tumor maupun kanker payudara. Tapi, dalam dua tahun ini, baru dua kasus tumor phyllodes yang saya temukan,” ujarnya.

Lantas apa bedanya tumor phyllodes dengan kanker maupun tumor payudara pada umumnya? Sidho menerangkan, jika tumor maupun kanker payudara pada umumnya hanya menyerang sel pelapis payudara, maka tumor phyllodes menyerang sel kerangka. Posisinya lebih dalam ketimbang tumor pada umumnya.

Ukuran tumor phyllodes, Sidho menyatakan, bisa dua kali lipat lebih besar ketimbang tumor pada umumnya. ”Karena itu, tidak heran bila berat tumor pada payudara Maria ini mencapai 10 kilogram,” kata pria yang juga menjadi konsultan bedah onkologi ini.

Sidho menyatakan, sama seperti tumor maupun kanker pada umumnya, tumor phyllodes bisa menyerang siapa pun. Kebanyakan memang menyerang perempuan berusia 30–50 tahun. Tapi, dia juga pernah menjumpai pasien tumor payudara yang usianya masih 17 tahun dan paling tua 89 tahun.

Sidho pun berharap, perempuan bisa mengetahui tanda-tanda awal penyakit ini. ”Bisa (maaf) diraba-raba sendiri (payudara) ketika mandi. Kalau ada benjolan, segera dikonsultasikan,” kata dia.

Sidho menyatakan, rata-rata pasien yang dia tangani sebenarnya sudah mengetahui tanda-tanda awal. Tapi, mereka takut untuk berobat ke dokter. ”Mereka takut bila harus dioperasi,” ujar dia.

Akhirnya tak sedikit yang memilih pengobatan alternatif. Seperti yang dilakukan oleh Maria Kristiningsih ini. ”Dia sudah 2–3 tahun ini terkena tumor. Tapi, saya lebih memilih pengobatan alternatif. Karena tak berangsur membaik, saya memutuskan untuk operasi,” jelas dia.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka
Grafis: Rizky Widdie