Sastrawan: Silaturahmi Adalah Modal Utama Sastra

KOTA MALANG – Penyair Pengembara Bambang Eko Prasetyo kembali mengingat masa-masa menulis puisi di Malang. Penyair yang sudah melalang buana itu menyebut, silaturahmi adalah modal utama sastra. Kegiatan Silaturahmi Sastra Radar Malang diharapkan menjadi penyambung tali kasih persaudaraan.
Sehabis tarawih (18/7), suasana di News Kafe Radar Malang ramai pengunjung yang merupakan pegiat sastra. Ya, kegiatan Silaturahmi Sastra yang digelar sebulan sekali ini juga disajikan malam hari di bulan Ramadan. Pengunjung terlihat antusias mendengarkan dan diskusi bareng pemateri Bambang Eka Prasetya, Dewi R Maulidah dan Faris Naufal R. Tema diskusi yang dibawakan ”Perkembangan Sastra Masa Kini”.

”Bukan karena saya lihat banner acara ya, tapi memang sastra erat kaitannya dengan silaturahmi. Inilah modal utama sastra,” ucapnya saat membuka diskusi malam itu.

Bambang merupakan penyair yang senang bersilaturahmi, datang dan bertemu banyak pegiat sastra di sejumlah kota tanah air dan luar negeri. Karena menurutnya, siapapun yang mendapatkan gelar sastrawan di Indonesia, harus membumi. Maksudnya, terus menggali potensi dan mengeksplore kearifan lokal masyarakat.
Nah, namanya silaturahmi, kata penyair asal Magelang itu, maka seyogyanya didasari oleh nilai-nilai silaturahmi. Tentunya agar seorang sastrawan mengedepankan sebuah nilai dalam karya dan tutur tingkahnya. Maka silaturahmi sebutnya, sangat penting untuk mengetahui tentang nilai-nilai yang ada pada masyarakat di masing-masing daerah.

”Karena berbicara sebagai sastrawan harus berhati-hati. Berbicara seyogyanya dengan nilai,” kata pria kelahiran Jombang itu.

Bambang juga melihat Malang mempunyai dinamika sastra yang luar biasa. Dia yakin nantinya akan lahir Ratna (Penulis Lemah Tanjung, Red) berikutnya dari Malang. Yaitu seorang sastrawan yang memperlihatkan bagaimana sastra ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Seperti puisi Chairil Anwar ”Boeng Ayoe Boeng” dan Wiji Thukul ”Satu Kata, Lawan!” yang dapat mempengaruhi lingkungannya.



”Boeng Ayoe Boeng itu puisi,” ujarnya.

Begitu juga menurut penulis buku puisi Pemeluk Angin Dewi R Maulidah, menulis puisi atau karya sastra lainnya merupakan sebuah sikap. Karena sastra kata Dewi, tujuannya untuk mengenal diri sendiri berikut tanggungjawabnya terhadap lingkungan sekitar.

”Menulis itu sebuah sikap,” tutur wanita asal Gresik itu.

Untuk perkembangan sastra saat ini, pegiat komunitas Kalimetro Faris Naufal R menyatakan, ruang-ruang informasi sudah sangat terbuka. Akan sangat mudah bagi para penyair muda untuk terus berkembang. Bahkan sastra masa kini kata dia, optimis akan terus berkembang.

”Saat ini ruang sastra sangat terbuka dan akan lebih mudah untuk penyair muda bisa terus berkembang,” pungkasnya.

Pewarta : Fajrus Shiddiq
Foto: Mahfud
Penyunting: Fia