Sastrawan Binhad Nurrohmat: Merawat Komunitas Sastra Butuh Media Massa

KOTA MALANG – Komunitas sastra di berbagai daerah tumbuh dan berkembang tak bisa sendirian. Mereka membutuhkan ruang apresiasi karyanya untuk merawat komunitas. Salah satu cara melestarikan komunitas sastra ada aktualisasi karya ke dalam media massa cetak maupun digital.

Hal ini disampaikan oleh Sastrawan asal Jombang, Binhad Nurrohmat pada Bimbingan Teknis Gerakan Literasi Nasional yang diadakan Balai Bahasa Jawa Timur, Kamis (25/4) di Perpustakaan UM. Di hadapan 35 guru dan 15 pelajar ia menyampaikan bahwa pecinta sastra akan tumbuh kepercayaan dirinya jika diberi ruang aktualisasi karya.

“Misalnya pelajar, ia perlu ruang publikasi seperti mading, majalah sekolah untuk mengetahui apakah karyanya sudah baik atau belum. Banyak pelajar yang tidak punya ruang tersebut, maka kepercayaan dirinya tidak bisa tumbuh. Sebab pemuatan adalah apresiasi untuk mereka,” paparnya.

Lebih lanjut Binhad mengatakan bahwa sekolah-sekolah yang sudah memiliki media sastra, misalnya majalah harus bertukar informasi dengan sekolah lain. Sehingga akan tercipta komunitas antar sekolah tempat berbagi kreasi.

“Selain itu komunitas sastra juga jarus menjalin relasi dengan media untuk merawatnya. Karena media lah yang bisa mempublikasi. Ketika memiliki karya, ketika membuat acara, peran media sangat penting. Kalau saya lebih suka cetak seperti koran karena rasanya kayak lebih ngena. Kalaupun anak zaman sekarang lebih suka digital juga nggak masalah,” terang pria yang hobi bertopi koboi ini.

Binhad juga mengajarkan peserta untuk mensiasati dana saat menggelar acara sastra. Misalnya sebuah komunitas ingin mengundang sastrawan Jakarta, Seno Gumira ke Malang.

“Cari hari yang kebetulan Seno ke Malang juga di acara lain. Sebelum atau sesudah acaranya, culik saja ke sini, kemungkinan bersedia. Paling nggak meskipun keluar dana nggak perlu uang transportasi,” terangnya sambil tertawa.

Salah satu peserta guru dari SMAN 1 Tumpang, Maisaroh membenarkan bahwa saat ini pelajar yang hobi bersastra memang kekurangan wadah. Sehingga banyak pelajar yang sebenanrya mau dan bisa tidak berani berekspresi.

“Selama ini puisi contohnya, saya suruh anak-anak bikin tapi kemudian hanya dikumpulkan menjadi buku. Tidak ada wadah yang benar-benar bisa membuat bangga dirinya sendiri,” terangnya.

Usai materi dan diskusi, peserta diarahkan untuk menulis sesuatu di atas kertas. Entah puisi, artikel, apapun asal tulisan. Mereka dibagi 3 kelompok yakni pelajar, guru dengan minat digital, dan guru yang berminat dengan pemuatan cetak. Semua peserta tampak serius menulis selama 30 menit.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto: Rida Ayu