Sapi Produktif Hasilkan 23 Ribu Ton Susu Per Tahun

Genjot Produk Olahan Susu

KOTA BATU – Selain terkenal dengan hasil pertanian dan sektor pariwisata, Kota Batu juga mempunyai potensi peternakan sapi perah. Dalam dua tahun terakhir, jumlah populasi sapi perah di kota dengan sebutan de Klein Switzerland (Swiss kecil di Jawa) ini terus mengalami peningkatan. Tingginya permintaan susu dan potensi wilayah yang cocok untuk pengembangan sapi perah membuat banyak warga yang beternak sapi.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Batu Lestari Aji menjelaskan, dalam dua tahun terakhir, jumlah sapi perah terus mengalami peningkatan. Dia merinci, dari data sampai April lalu, populasi jumlahnya sekitar 11.950 ekor. Pada tahun 2016, jumlah sapi perah yang terdata sekitar 11.250 ekor.

”Jumlahnya kurang lebih sebanyak itu. Mungkin saat ini terus bertambah,” ujar dia.

Dia melanjutkan, populasi sapi perah di Kota Batu, paling banyak di Desa Gunungsari, Pesanggrahan, dan sebagian lagi di Desa Junrejo dan Tlekung. Meski jumlah sapi cukup banyak, Lestari menyebut, tidak semua sapi itu telah memasuki masa produktif.

”Yang produktif itu kisaran 60 persen dari jumlah populasi,” ujar dia.

Dia menjelaskan, ada sekitar 7.500 ekor sapi betina produktif yang telah menghasilkan susu, sedangkan sisanya adalah sapi jantan atau sapi yang masih anakan. Meski demikian, hasil susu dari sapi perah yang ada di Kota Batu cukup tinggi. Dalam setahun, mampu menghasilkan 23.300 ton susu atau sebanyak 64,7 ton per hari. Jika dihitung rata-rata per ekor, sapi perah menghasilkan antara 12 sampai 15 liter susu setiap hari.

”Jumlah produksi susu ini cukup banyak,” terang dia.

Sebagian besar hasil susu langsung dibeli produsen susu formula lewat koperasi. Namun, semangat warga membuat produk turunan dari susu juga semakin banyak. Mereka memanfaatkan susu untuk diolah secara mandiri.

”Ada banyak sekarang. Ini yang dijadikan susu pasteurisasi, permen susu, stik susu, yoghurt, sampai keju,” ujar dia.

Dia melanjutkan, warga mulai terus berinovasi. Soal harga susu, selama ini memang bukan kewenangan dari dinas pertanian.

”Ya, kami tidak bisa ikut campur (soal harga, Red), yang kami lakukan adalah sebatas secara teknis untuk budidaya,” ungkap dia. Untuk harga, biasanya memang dilihat dari kualitas susu dan kesepakatan dengan pembeli.

Selama ini, berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah populasi sapi juga terus dilakukan. ”Melalui pelayanan inseminasi buatan (IB), pelayanan kesehatan hewan, dan kualitas pakan,” ujar dia.

Untuk inseminasi buatan pada 2018, IB yang diberikan Dinas Pertanian sebanyak 3.500 kali. Sedangkan pelayanan kesehatan hewan dilakukan untuk sapi bunting, semua program itu diberikan secara gratis pada peternak.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Achmad Yani
Foto: Darmono