Sambut Indonesia Bermusik Vol.2, MMI Malang Hadirkan Koleksi Musik Tiga Zaman

KOTA MALANG- Museum Musik Indonesia (MMI) Malang tengah mempersiapkan diri menuju pameran Indonesia Bermusik vol 2 dalam rangka memperingati Hari Musik Nasional. Pameran akan dilakukan pada 11 Maret 2020 mendatang di residence House of Sampoerna Surabaya.

Menurut Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto, di pameran Indonesia Bermusik vol 2 ini, MMI akan menampilkan musik 3 zaman yaitu era kemerdekaan, orde lama dan orde baru.

Hengki menjelaskan, pada koleksi era kemerdekaan, musik menjadi sarana kampanye perjuangan kemerdekaan oleh para pejuang. sebut saja, lagu-lagu kebangsaan karya WR. Supratman, Ismail Marzuki, Cornel Simandjuntak. Sedangkan pada orde lama, musik mengalam diskriminasi. Tak sedikit pemerintah yang berkuasa saat itu melakukan penangkapan musisi yang dinilai tak sejalan dengan arah politik saat itu.

Bahkan, di akhir masa pemerintahan Soekarno melarang perkembangan budaya kreatifitas ngak ngik ngok yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Pemerntahan saat itu bahkan menangkap band koes plus yang terlalu memuja budaya ngak ngik ngok tersebut. Soekarno juga melarang pemutaran lagu rock n roll di radio-radio.

Hengki melanjutkan, dalam pameran musik nanti MMI juga menampilkan kebebasan berekspresi dan bermusik pada jaman orde baru. Seperti tentang kebebasan berekspresi dari pemusik yang karyanya juga mempengaruhi pemerintah pada masa itu. Termasuk diantranya Rinto Harahap dan Betharia Sonata yang sempat dilarag tayang d televisi pemerintah karena dianggap cengeng dan tidak bisa menumbuhkan semangat kerja dan menghambat pembangunan nasional.

“Ada baju kebaya Waldjinah dan topi pemberian Iwan Fals yang akan dipamerkan di Indonesia Bermusik vol 2,” kata dia.

Pameran indonesia bermusik vol 2 akan membahas lebih detail tentang perkembangan musik Indonesia yang berkaitan dengan konflik politik sosial dan tokoh-tokoh yang bersangkutan. Hengki berharap dengan adanya pameran musik ini masyarakat bisa belajar dan tidak melupakan karya-karya musisi lama.

“Jangan melupakan sejarah termasuk sejarah musik Indonesia,” pesannya.

Pewarta: Viona Alvioniza
Foto: Viona Alvioniza
Penyunting: Fia