Sambut Hari Kemerdekaan, Desa Pesanggrahan Gelar Jamasan Pentongan

KOTA BATU – Menjelang bersih desa dan HUT RI ke 74, Desa Pesanggrahan Kota Batu menggelar ritual memandikan pentongan. Acara yang diadakan pertama kali ini dimaksudkan untuk menghormati jasa pahlawan tanpa menghilangkan fungsi pentongan pada masanya.

“Ritual jamasan itu adalah ritual pemandian pentongan. Ada empat pentongan yang disakralkan di desa pesanggrahan,” jelas Sely Mariatur Rohmah Humas Tim Analogi Project.

Ia menjelaskan tidak hanya dimandikan, namun pentongan tersebut nantinya juga akan diarak saat kembali ke tempatnya masing-masing.

Sely membeberkan, menurut riset yang dilakukan panitia dan beberapa pendapat dari para sesepuh Desa Pesanggrahan, pentongan memiliki makna sebagai para pejabat atau tokoh, pemegang dan pemberi suara kebijakan, hingga pemaknaan sebagai sebuah kedaulatan yang berada di tangan rakyat berada pada instrument pemukul pentongan. Pentongan ini sendiri terdiri atas lubang yang berada di tengah yang berbentuk persegi panjang, bulat, oval, hal ini biasanya di tengah–tengah masya
arakat sering dikiaskan sebagai “cangkem” atau mulut. Di sisi lain juga ada penyebutan istilah “weteng” atau perut dalam pentongan atau yang ada pada bagian lingkar pentongan. Lalu juga ada lubang atas yang berbebentuk lingkaran yang biasanya digunakan untuk menggantung kentongan bisa dikiaskan sebagai “ndas atau sirah” atau bisa diartikan sebagai kepala dan lehernya.

“Dulu, pentongan berfungsi sebagai tanda bahaya dan pemberitahuan secara cepat. Bisa dibayangkan bagaimana kita tanpa adanya pentongan,” ungkap Sely. Ia juga menambahkan dengan adanya acara ini bisa memperkenalkan budaya pentongan pada anak muda era digitalisasi.

Sebelum acara jamasan pentongan, pentongan tersebut sebelumnya di rituali dan bertempat di rumah Wiryo Wisastro Kepala Desa pesanggrahan tahun 1945 sampai 1960. Dirumah tersebut pentongan akan di kafani dan diberdirikan serta diberikan doa dengan sesajen berisi jenang sengkolo, pisang, bunga tujuh rupa, dan air dari tujuh sumber dari Kota Batu.

Terpisah, Sunarto salah satu budayawan dan tetuah di Desa Pesanggrahan menerangkan bahwa pentongan adalah simbol dari pemimpin, alat komunikasi, dan kehormatan. “Alat komunikasi pertama itu pentongan, pentongan juga merupakan simbol pemimpin karena tidak semua orang mempunyai, kecuali pimpinan,” jelasnya.

Tak hanya itu saja, Sunarto juga memaparkan bahan dasar pentongan yakni adalah kayu yang berawal dari kata qoyyum yang berarti berdiri sendiri. “Oleh sebab itu kenapa dianggap sebagai simbol kehormatan karena dulu pemenang kepala desa selalu membawa pentongan di rumahnya,” tandasnya

Pewarta : Choirul Anwar
Foto : Choirul Anwar
Penyunting: Fia