Salah Sangka, Polisi Tembak Mati Warga

JawaPos.com – Akhir pekan menjadi momentum istimewa bagi Atatiana Jefferson dan keponakannya. Mereka sepakat menghabiskan malam Sabtu bersama. Biasanya mereka bercengkerama di kamar Jefferson. Si keponakan senang karena diizinkan bermain Xbox sampai dini hari. Biasanya, mereka baru terlelap sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Namun, kebiasaan itu sirna pada Sabtu lalu (12/10). Pada dini hari itu, keponakan Jefferson yang berusia delapan tahun menjadi saksi pembunuhan. Menjelang tidur, perempuan 28 tahun tersebut mendengar suara di halaman rumahnya. Penasaran, dia pun lantas mengintip dari jendela kamarnya. Saat itulah dia mendengar teriakan sekaligus todongan senjata.

“Angkat tanganmu! Tunjukkan tanganmu!” ujar pria bersenjata yang belakangan diketahui bernama Aaron Dean dan merupakan seorang polisi. Belum sampai Jefferson menjawab, pistol sudah menyalak. Dor! Timah panas melesak ke tubuh Jefferson dan mencabut nyawanya.

Dean membunuh Jefferson tanpa alasan apa pun. Dalam berkas laporannya, polisi dari kesatuan Fort Worth, Negara Bagian Texas, meyatakan bahwa Jefferson membuatnya terancam.

“Aparat tidak mengatakan bahwa dia (Jefferson, Red) memegang senjata,” terang S. Lee Merritt, kuasa hukum keluarga korban, kepada New York Times.

Insiden penembakan itu membuat muntap komunitas kulit hitam di Fort Worth. Mereka terganggu oleh video yang beredar luas di dunia maya dan memperlihatkan Jefferson dihabisi tanpa sempat membela diri. Ironisnya, alasan pembunuhan juga tidak jelas.

Belakangan polisi memang menemukan senjata di kamar Jefferson. Tetapi, Merritt menegaskan bahwa senjata itu legal. Jefferson memiliki surat izin atas kepemilikan senjata tersebut.

Jika komunitas kulit hitam Fort Worth mengecam keras Dean karena seenaknya mencabut nyawa orang lain, keluarga Jefferson sangat hancur. Terutama keponakan kesayangan Jefferson yang malam itu menyaksikan bibinya ditembak mati.

“Dia sedikit berubah. Tapi, kami yakin dia adalah anak yang kuat,” ungkap Adarius Carr, kakak Jefferson, kepada CNN.